Jakarta – Pemerintah Indonesia sedang mengkaji pengembangan produksi Compressed Natural Gas (CNG) secara besar-besaran sebagai alternatif LPG yang selama ini bergantung pada impor.
Langkah ini diharapkan memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi beban subsidi APBN.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (27/4/2026).
Menurut Bahlil, rencana pemanfaatan CNG masih dalam tahap pembahasan lintas sektor dan akan segera difinalisasi menjadi bagian dari kebijakan energi nasional.
Baca Juga: Pesawat Presiden Israel Isaac Herzog Putar 8 Jam Hindari Ruang Udara Turki Menuju Kazakhstan
CNG dibuat dengan memampatkan gas alam hingga volume menyusut menjadi kurang dari 1% ukuran semula.
Komposisinya didominasi metana (CH₄) dan etana (C₂H₆).
Keunggulannya: lebih ramah lingkungan dibanding bensin atau solar, lebih aman, serta lebih murah.
Indonesia sudah menjajaki teknologi ini sejak pertengahan 1990-an, sehingga bukan hal yang benar-benar baru.
Konsumsi LPG nasional mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun.
Baca Juga: Seorang Pria dari Suku Odisha, India, Gali Kubur Kakaknya, Bawa Kerangka ke Bank untuk Tarik Uang
Namun, produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6–1,9 juta ton.
Sisanya harus diimpor, dengan porsi impor mencapai lebih dari 80% bahkan sempat menyentuh 83,97% pada awal 2026.
Impor LPG ini membebani devisa negara dan subsidi APBN yang sangat besar.
Bahlil menekankan bahwa bahan baku CNG melimpah di dalam negeri.
Berbeda dengan LPG yang produksinya terbatas karena karakteristik gas alam Indonesia yang kaya metana, CNG dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk kebutuhan rumah tangga dan sektor lain.
Selain CNG, pemerintah juga mengkaji Dimethyl Ether (DME) sebagai opsi lain dalam transisi energi.
Namun Bahlil menegaskan bahwa kedua opsi ini belum menjadi keputusan final, melainkan bagian dari upaya mencari berbagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan impor.
Pakistan menjadi salah satu negara pengguna CNG terbesar di dunia dan berhasil mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor melalui teknologi ini.
Jika direalisasikan, pengembangan CNG diharapkan dapat menstabilkan pasokan gas untuk memasak, menekan harga, serta mendukung target kemandirian energi Indonesia.
Saat ini pemerintah juga terus memastikan pasokan LPG tetap aman sambil menyiapkan langkah jangka panjang.
Pemerintah terus melakukan konsolidasi antarlembaga agar kebijakan ini dapat segera diimplementasikan.
Masyarakat diharapkan terus mendukung upaya transisi energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (red)
(Sumber: Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, data Kementerian ESDM, dan laporan resmi terkait kebijakan energi nasional)
Editor : Iwa Ikhwanudin