Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Super El Niño 2026 Diprediksi Lebih Kuat dari Tahun 1877, Indonesia Waspada Kekeringan Panjang dan Karhutla di Jawa

Iwa Ikhwanudin • Kamis, 30 April 2026 | 08:29 WIB
Super El Nino
Super El Nino

 Yogyakarta – Prediksi cuaca global terkini menggemparkan dunia meteorologi. Meteorolog Jeff Berardelli menyebut median forecast ensemble menunjukkan anomali suhu Niño 3.4 bisa mencapai +2.75°C pada akhir 2026. Angka ini berpotensi menyamai atau bahkan melebihi El Niño legendaris tahun 1877 yang mencapai +2.7°C, peristiwa terkuat dalam 150 tahun terakhir.

El Niño 1877 dikenal sebagai pemicu kekeringan hebat, gagalnya musim hujan monsun, hingga krisis pangan massal di berbagai belahan Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Di Indonesia, dampak serupa pernah dirasakan berupa kemarau ekstrem yang mengganggu pertanian.

Namun, menurut Berardelli, situasi saat ini berbeda. Meski pelepasan panas samudra sangat besar dan dapat mengubah pola cuaca global, kemajuan prediksi cuaca, infrastruktur, serta indeks RONI (yang mempertimbangkan pemanasan global baseline sekitar 0.75–1°C) membuat dampak relatif diperkirakan tidak seburuk dulu. Dunia kini jauh lebih siap menghadapi fenomena ini.

Apa Dampak Super El Niño 2026 untuk Indonesia?

Baca Juga: Guru Madrasah Aliyah (MA) Al Manar Pengasih Kulon Progo Kini Bisa "Mengajar dari Mana Saja" Berkat Green Screen Chromakey

Fenomena El Niño kuat biasanya membawa:

Kekeringan panjang dan musim kemarau lebih kering terutama di Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat di Sumatera, Kalimantan, dan wilayah kering lainnya.

Krisis air bersih dan ancaman gagal panen pada lahan tadah hujan, khususnya di Pantura Jawa sebagai lumbung padi nasional.

Baca Juga: Roadshow Antariksa di SMK N 2 Gedangsari: Edukasi Judi Online, Melindungi Pelajar sejak Dini

Gelombang panas yang lebih intens dan berkepanjangan.

Di sisi lain, beberapa wilayah timur seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku berpotensi mengalami curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor meski di luar musim hujan biasa.

Peta NMME Oktober menunjukkan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Timur tropis mencapai +3 hingga +4°C, sinyal kuat bahwa “Pacific talks, atmosphere listens”.

Persiapan di Yogyakarta dan DIY

Baca Juga: Indonesia Kaji Produksi CNG Massal, Tekan Impor LPG yang Makan Triliunan Rupiah

Bagi masyarakat Jogja dan sekitarnya, ancaman utama adalah kekeringan yang dapat memengaruhi pasokan air irigasi sawah, produksi pangan, dan kualitas udara akibat asap karhutla. Pemerintah daerah dan BMKG diharapkan segera meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini, termasuk:

Optimalisasi waduk dan embung.

Promosi pertanian tahan kekeringan.

Pencegahan dini kebakaran lahan.

Edukasi masyarakat tentang penghematan air.

Baca Juga: Pesawat Presiden Israel Isaac Herzog Putar 8 Jam Hindari Ruang Udara Turki Menuju Kazakhstan

Para ahli menekankan bahwa meski prediksi ini masih memiliki ketidakpastian, tren menuju Super El Niño atau bahkan “Godzilla El Niño” sudah terlihat sejak awal 2026. Kombinasi dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif berpotensi memperburuk kondisi kering di Indonesia bagian selatan. (red) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#El Nino #Super el Nino #Godzila El Nino #Kekeringan panjang #cuaca ekstrem