RADAR MALIOBORO - Menikmati pameran seni rupa kini tidak harus selalu datang ke galeri yang sunyi, dingin, dan kaku. Pertengahan Mei lalu, sebuah kedai kopi di Yogyakarta berhasil disulap menjadi ruang alternatif yang hangat di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Dalam gelaran pameran bertajuk “Seporsi Berposisi”, Esa Studio mengajak kita merefleksikan kehidupan yang tengah dijalani. Menghadirkan 13 karya dari 10 seniman, pameran ini tawarkan ruang untuk istirahat sejenak dari kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan.
“Konsep “Seporsi Berposisi” menekankan bahwa setiap individu memiliki porsi, ritme, dan waktunya masing-masing dalam menjalani kehidupan. Enggak semua hal harus dicapai dengan tergesa-gesa atau berada dalam tekanan kompetitif yang sama,” tutur Abid Dafa sebagai kurator dalam pameran tersebut.
Dalam dua hari berturut-turut, aroma kopi yang menguar di Mood & Tone Coffee tidak sendirian mendamaikan sore. Ia berpadu dengan karya-karya yang dipajang di sudut-sudut dindingnya.
Di kehidupan saat ini, manusia seolah dipaksa untuk terus berlari di atas lintasan kompetisi yang tidak pernah ada akhirnya. Berangkat dari kegelisahan kolektif itulah, kolektif seni Pukul Dua Empat mencoba merespons keadaan.
Karya yang ditampilkan menghadirkan beragam sudut pandang, mulai dari identitas, pencarian arah hidup, hingga pengalaman pengalaman personal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Beberapa karya juga menyoroti bagaimana manusia hidup di dalam struktur sosial yang membentuk cara berpikir dan bertindak.
Seruan refleksi yang ditawarkan “Seporsi Berposisi” rupanya bergaung kuat ke banyak kepala. Lebih dari ruang singgah, sudut alternatif ini bertransformasi menjadi tempat bertemunya ratusan cerita. Penjualan yang melampaui angka 200 minuman yang terjual selama dua hari menjadi penanda betapa betahnya pengunjung menghabiskan sore di sana.
“Seporsi Berposisi” pada akhirnya bukan sekadar tentang pameran seni rupa yang telah lewat. Ia menjadi bagian kecil dalam ingatan yang sempat berdiri untuk jiwa-jiwa yang lelah berlari mengejar dunia. Pameran ini menyadarkan kita bahwa hidup ini bukanlah perlombaan lari dan setiap dari kita berhak berjalan dengan ritme dan waktunya masing-masing. ().
Editor : Iwa Ikhwanudin