RADAR MALIOBORO - Seorang ibu berinisial TKS (25 tahun) nekat melakban mulut anaknya akibat mengalami stres berat karena beban mengasuh anak seorang diri. Kejadian tersebut berlangsung di rumah kontrakannya yang beralamat di Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.
Kepolisian Resor (Polres) Bantul mengungkap motif dari kejadian ini adalah karena sang ibu ingin refreshing setelah selama ini mengasuh anak sendirian. Sementara itu, RF yang merupakan suami dari TKS diketahui bekerja di Jakarta dan hanya pulang satu bulan sekali.
Berdasarkan hasil pemeriksaan kepolisian, TKS nekat melakukan tindakan tersebut secara spontan tanpa memikirkan risiko panjang akibat didera kelelahan hebat (burnout).
Baca Juga: FBI Luncurkan Daftar Top 10 Most Wanted Fraudsters, Inisiatif JD Vance Bidik Kerugian Miliaran Dolar
Namun, tindakan spontan yang dipicu oleh kelelahan hebat ini sering kali berjarak tipis dengan gangguan mental yang lebih berat. Kondisi kelelahan fisik dan emosional yang ekstrem saat mengasuh anak tidak boleh disepelekan, karena jika dibiarkan tanpa penanganan, burnout pengasuhan dapat berkembang menjadi depresi pascamelahirkan.
Untuk mencegah tekanan psikologis yang lebih dalam sekaligus menghindari tindakan represif terhadap anak, terdapat beberapa langkah medis dan praktis yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala burnout pengasuhan:
1. Menyampaikan Apa yang Dirasakan
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengomunikasikan perasaan dan kebutuhan secara jujur kepada pasangan. Ibu perlu menyampaikan bahwa proses pengasuhan anak memerlukan dukungan lebih, terutama keterlibatan fisik dan emosional dari suami.
Sementara bagi ibu yang harus mengasuh sendiri (single parent), bercerita kepada anggota keluarga terdekat atau sahabat yang tepercaya dapat menjadi alternatif untuk mengurai beban mental.
2. Menjaga Pola Makan
Kondisi fisik yang prima sangat memengaruhi stabilitas emosi. Bagi ibu yang mulai merasa kelelahan dalam mengasuh anak, disarankan untuk rutin mengonsumsi makanan bernutrisi tinggi seperti daging ayam, ikan, telur, buah-buahan, biji-bijian, serta sayur-sayuran. Selain itu, pemilihan camilan yang mengandung protein rendah lemak, seperti yoghurt dan kacang-kacangan, juga baik untuk menjaga energi tubuh tetap stabil.
3. Rutin Berolahraga
Mengelola stres tidak harus dilakukan dengan aktivitas yang menyita waktu lama. Ibu dapat meluangkan waktu minimal 15 menit untuk sekadar berjalan kaki di sekitar area rumah. Aktivitas fisik ringan ini dinilai efektif untuk meredakan stres karena mampu memicu hormon emosi positif, membuat tubuh lebih rileks, serta menenangkan pikiran.
4. Meminta Bantuan Profesional
Apabila langkah-langkah mandiri tersebut belum mampu mengurai tekanan psikologis yang dihadapi, langkah terakhir yang sangat dianjurkan adalah mencari bantuan profesional.
Baca Juga: Pakar Ekonomi Peringatkan Rekor Surplus Dagang RI 72 Bulan akan Segera Berakhir
Berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau dokter dapat membantu orang tua mendapatkan penanganan medis dan pendampingan yang tepat untuk mengatasi kondisi baby blues maupun gangguan depresi pengasuhan lainnya.
Kasus ini menjadi pengingat bagi lingkungan sekitar akan pentingnya kepekaan terhadap kondisi psikologis ibu baru.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan serupa atau kelelahan hebat dalam pengasuhan (parental burnout), jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ke puskesmas terdekat, atau menghubungi layanan aduan dan pendampingan psikologis melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). ().
Editor : Iwa Ikhwanudin