RADAR MALIOBORO - Hari ini, Kamis (25/06/2026) masyarakat internasional memperingati Hari Pelaut Sedunia atau Day of the Seafarer. Peringatan tahunan ini menjadi bentuk pengakuan dan penghargaan global atas dedikasi serta kontribusi besar para pelaut yang bekerja di balik layar demi menjaga kelancaran roda perekonomian.
Peran para pelaut dinilai sangat penting bagi kehidupan manusia. Sebagian besar barang kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan hingga produk industri lintas negara, diangkut melalui jalur laut. Tanpa pengorbanan mereka yang menghabiskan waktu berbulan-bulan di tengah lautan, rantai pasok dunia dan stabilitas ekonomi global tidak akan berjalan dengan lancar.
Sejarah peringatan ini bermula dari keputusan Konferensi Diplomatik tahun 2010 di Manila. Saat itu, diadopsi sebuah resolusi yang menetapkan tanggal 25 Juni sebagai Hari Pelaut Sedunia, bersamaan dengan pengesahan revisi Konvensi STCW (Standards of Training, Certification, and Watchkeeping for Seafarers).
Selain sebagai bentuk apresiasi, momen 25 Juni juga menjadi pengingat penting bagi pemangku kebijakan global untuk terus meningkatkan kesejahteraan, keselamatan kerja, serta perlindungan hak-hak para pelaut.
Hari Pelaut Sedunia 2026: Mengakui Risiko di Lautan
Setiap tahunnya, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengusung tema kampanye yang berbeda. Melansir situs resmi IMO, kampanye Hari Pelaut Sedunia 2026 secara khusus berfokus pada kesulitan, tekanan, dan risiko nyata dari kehidupan di laut.
Dengan slogan utama “Carrying World Trade. Carrying the Risks” (Membawa Perdagangan Dunia. Membawa Risiko), kampanye tahun ini menggarisbawahi situasi para pelaut yang harus bertugas di daerah berisiko tinggi serta wilayah yang terdampak konflik.
Melalui tema ini, dunia diajak untuk menyadari bahwa di balik kelancaran arus barang yang kita nikmati, ada keberanian, pengorbanan, dan risiko berbahaya yang sering kali tidak terlihat dari luar. Terima kasih kepada seluruh pelaut dunia atas dedikasi dan tanggung jawab yang terus terjaga di setiap pelayaran. (Bunga Faizati Hudianna).
Editor : Iwa Ikhwanudin