Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Gempa Kembali Mengguncang Pacitan dengan kekuatan 5,6 Magnitudo, Ini Penjelasan Kenapa Pacitan Sering Menjadi Pusat Gempa

Bunga Faizati Hudianna • Sabtu, 27 Juni 2026 | 16:53 WIB
Gempa berkekuatan 5,6 Magnitudo mengguncang Pacitan Sabtu (27/6/2026) siang. (Foto: BMKG)
Gempa berkekuatan 5,6 Magnitudo mengguncang Pacitan Sabtu (27/6/2026) siang. (Foto: BMKG)

 RADAR MALIOBORO - Gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 5,6 kembali mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Sabtu (27/6/2026) pukul 14.47 WIB. Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di laut pada jarak 86 kilometer arah tenggara Kota Pacitan dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Peristiwa ini menambah panjang catatan gempa yangb berpusat di Pacitan, setelah sebelumnya gempa berkekuatan M 5,7 juga sempat mengguncang wilayah yang sama pada 27 Januari 2026 lalu.

Penyebab Tingginya Aktivitas Gempa di Pacitan

Baca Juga: Buka Fase Baru, Rony Parulian Rilis Single Sinematik “Wals Akhir Zaman”

Kondisi geografis Pacitan yang berada di ujung barat Jawa Timur, berbatasan dengan Ponorogo dan Wonogiri di utara, Trenggalek di timur, serta Samudra Hindia di selatan, membuatnya berada langsung di jalur tektonik aktif.

Secara ilmiah, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan Pacitan menjadi kawasan rawan gempa dengan indeks bahaya sedang hingga tinggi menurut BPBD setempat:

• Indonesia merupakan salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia. Wilayah selatan Jawa, termasuk Pacitan, dipengaruhi oleh zona penunjaman (subduksi) tempat Lempeng Indo-Australia dan Laut Filipina bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.

• Data batimetri menunjukkan adanya cekungan muka busur di lepas pantai Pacitan yang menyempit drastis dibanding wilayah selatan Yogyakarta. Kondisi ini mengindikasikan adanya tonjolan dasar laut yang masuk ke zona subduksi dan bertindak sebagai “ganjalan”. 

Baca Juga: Indonesia Menang 2-0 Atas Makau, Siap Hadapi Malaysia di Laga Pamungkas Grup D Badminton Asia Junior Championships 2026

Akibatnya, gesekan kuat menahan pergerakan lempeng dan menumpuk energi elastis selama ratusan tahun. Ketika tekanan melampaui batas ketahanan batuan, patahan besar terjadi dan melepaskan energi seismik yang kuat.

• Berhadapan langsung dengan Samudra Hindia membuat Pacitan rentan terhadap gempa megathrust—yaitu gempa di sepanjang batas subduksi yang kekuatannya bisa melampaui M 8,0. Di sepanjang selatan Jawa juga terdapat segmen seismic gap, yaitu zona subduksi aktif yang sudah lama tidak melepaskan energi besar. 

Indonesia sendiri memiliki lima zona lempeng aktif besar (Sumatran Megathrust, Java Megathrust, Banda Megathrust, Northern Sulawesi Thrust, dan Philippine Thrust) dengan sekitar 16 segmen aktif yang berpotensi memicu gempa besar dan tsunami.

Baca Juga: Hari UMKM Internasional 2026, Mendorong Inovasi dan Industri Berkelanjutan 

• Selain faktor laut, daratan Pacitan juga dilewati oleh Sesar Grindulu. Jalur patahan utama ini membentang searah aliran Sungai Grindulu, mulai dari pantai selatan hingga ke hulu di Kecamatan Bandar. Sesar ini rawan karena menjadi media rambatan gempa akibat tumbukan lempeng benua dan samudra.

Meskipun berada di dekat zona megathrust, BMKG menegaskan bahwa tidak semua gempa di selatan Jawa berkaitan langsung dengan struktur tersebut. Gempa yang terjadi hari ini, misalnya, dipicu oleh deformasi batuan di dalam lempeng (intraslab) atau aktivitas sesar lokal, baik di darat maupun laut.

Panduan Keselamatan dan Mitigasi Bencana

Sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, lembaga seperti BNPB, BMKG, dan BPBD terus menjalankan program mitigasi demi menekan risiko korban jiwa dan kerusakan. Sebagai langkah kesiapsiagaan, berikut adalah panduan tindakan awal yang harus dilakukan saat dan setelah gempa terjadi:

Baca Juga: Banyak Musuh Bermunculan, Tom Holland Ungkap Villain Utama 'Spider-Man: Brand New Day' Masih Dirahasiakan

1. Saat Guncangan Terjadi

• Di Dalam Bangunan: Lindungi kepala dan badan di bawah meja yang kokoh. Jauhi jendela kaca, lemari, atau benda-benda yang mudah jatuh. Jangan panik dan tunggu hingga guncangan benar-benar reda sebelum melakukan evakuasi.

• Di Luar Ruangan: Bergeraklah ke area terbuka. Menjauh dari gedung tinggi, pohon, tiang listrik, serta hindari permukaan tanah yang retak atau tidak stabil.

• Saat Berkendara: Segera tepikan kendaraan di area terbuka. Hindari berhenti di atas atau di bawah jembatan, serta area lereng yang rawan. Nyalakan lampu darurat.

• Di Area Pantai: Segera tinggalkan pantai dan bergerak menuju dataran tinggi untuk mengantisipasi potensi tsunami.

• Di Area Pegunungan: Menjauh dari tebing yang rawan longsor dan waspadai jika mendengar suara retakan tanah.

2. Setelah Guncangan Reda

• Lakukan evakuasi menggunakan tangga darurat (jangan gunakan lift).

• Periksa instalasi listrik dan gas untuk menghindari risiko kebocoran atau kebakaran.

• Jangan langsung kembali ke dalam bangunan yang sudah retak sebelum ada pemeriksaan dari petugas berwenang.

• Tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.

• Pantau informasi perkembangan situasi hanya dari kanal resmi untuk menghindari hoaks, serta ikuti pendataan dampak bencana jika diminta oleh pemerintah setempat.

(Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#pacitan #gempa #gempa bumi