Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Mengamati Strawberry Moon 2026, Fenomena ‘Micromoon’ Langka dengan Lintasan Unik

Bunga Faizati Hudianna • Senin, 29 Juni 2026 | 14:18 WIB
Ilustrasi Strawberry Moon. (Foto: Radar Mojokerto)
Ilustrasi Strawberry Moon. (Foto: Radar Mojokerto)

RADAR MALIOBORO - Pertengahan tahun 2026 ini kembali dihiasi oleh salah satu fenomena langit yang paling dinanti, yaitu Strawberry Moon atau Bulan Stroberi. Kabar baiknya, fenomena astronomi ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia dengan mata telanjang, dengan catatan kondisi cuaca cerah di lokasi pengamatan.

Meskipun disebut “Strawberry”, masyarakat tidak akan melihat bulan berubah warna menjadi merah muda. Penamaan tradisional ini berasal dari kebiasaan suku asli Amerika Utara yang menggunakan Bulan Purnama bulan Juni sebagai penanda masuknya musim panen stroberi. 

Sementara di beberapa wilayah Eropa, fenomena ini juga kerap disebut sebagai Honey Moon atau Mead Moon karena pancaran warna keemasannya yang khas saat berada di dekat cakrawala.

Strawberry Moon tahun ini memiliki karakteristik yang berbeda dari kebanyakan bulan purnama lainnya. Pada tahun 2026, fenomena ini berstatus sebagai micromoon, yaitu kondisi ketika bulan purnama berada pada titik orbitnya yang paling jauh dari bumi (apoge).

Baca Juga: Indonesia Gugur di Perempat Final BAJC 2026, Catatan Sejarah Beregu Campuran Belum Terpecahkan

Akibatnya, secara ukuran tampak, bulan akan terlihat sekitar 12 hingga 14 persen lebih kecil dan sedikit lebih redup dibandingkan saat supermoon. Kendati demikian, perbedaan ukuran ini umumnya sulit dikenali hanya dengan mata biasa. 

Sebagai micromoon terakhir di tahun 2026, cahayanya dipastikan tetap cukup terang untuk mendominasi langit malam dan menyamarkan kerlip bintang-bintang di sekitarnya.
Menariknya lagi, posisi Bulan Purnama kali ini akan berada tepat di depan rasi bintang Sagittarius, atau di sekitar asterisme Teapot. Arah pandang ini secara tidak langsung menghadap langsung ke pusat Galaksi Bima Sakti, tempat Tata Surya kita berada.

Daya tarik utama dari Strawberry Moon Juni 2026 adalah jalurnya yang tidak biasa karena dipengaruhi oleh kemiringan orbit bulan sebesar lima derajat relatif terhadap ekliptika (lintasan matahari). Posisi bulan purnama selalu berlawanan dengan matahari.

Pada bulan Juni, ketika matahari mencapai lintasan tertinggi dan paling utara di Belahan Bumi Utara, bulan justru mengambil jalur sebaliknya yakni mengikuti lintasan terendah dan paling selatan. Bulan akan terbit agak terlambat di arah timur-tenggara dan bergerak membentuk busur dangkal yang rendah melintasi langit selatan sebelum terbenam lebih awal di arah barat-daya.

Baca Juga: Indonesia dan Dunia Peringati Hari Tropis Internasional 2026, Momentum Menjaga Penyangga Kehidupan Bumi

Fenomena lintasan rendah ini meluncurkan ingatan pada Strawberry Moon tahun lalu yang mencapai titik diam bulan utama (major lunar standstill), yaitu puncak siklus 18,6 tahunan yang memicu posisi terbit-terbenam paling ekstrem di selatan sejak 2006.

Meski tahun 2026 ini posisinya tidak seekstrem tahun lalu, bulan akan tetap melintas sangat rendah bagi pengamat di Belahan Bumi Utara, seolah menggantung berat di tengah kabut senja. Sebaliknya, bagi pengamat di Belahan Bumi Selatan (termasuk sebagian besar Indonesia), bulan akan terlihat bergerak lebih tinggi di langit dengan sudut pandang yang lebih luas.

Berdasarkan perbedaan zona waktu, fase puncak purnama terjadi pada tanggal 29 Juni 2026 untuk wilayah Amerika, Eropa, dan Afrika. Sementara untuk wilayah Asia (termasuk Indonesia), Australia, dan Selandia Baru, fasenya jatuh pada tanggal 30 Juni 2026.

Namun secara umum, waktu terbaik untuk mengamatinya di Indonesia adalah pada malam tanggal 29 dan 30 Juni 2026 sesaat setelah matahari terbenam. Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan dan dokumentasi lanskap fotografi yang maksimal, berikut adalah panduan praktis yang bisa Anda ikuti.

Baca Juga: Harganas Ke-33 Mengusung Tema “Ayah Wajib Hadir” untuk Cegah Budaya Fatherless 

1.    Amati Sesaat Setelah Matahari Terbenam
Jangan menunggu bulan berada di atas kepala. Waktu terbaik adalah saat bulan baru mulai terbit dari ufuk timur. Pada momen ini, muncul “ilusi bulan” akibat efek perspektif yang membuat ukurannya tampak lebih besar dan berwarna keemasan hangat karena pengaruh atmosfer bumi.

2.    Cari Lokasi dengan Cakrawala Terbuka
Karena bulan melintas rendah di jalur tenggara ke selatan, pilih lokasi yang memiliki pandangan bebas hambatan ke arah timur hingga tenggara. Tempat ideal meliputi pantai, lapangan luas, perbukitan, atau atap gedung tinggi. Hindari area yang terhalang pohon lebat atau bangunan bertingkat di dekat cakrawala.

3.    Pantau Kondisi Cuaca dan Polusi Udara
Pastikan langit dalam kondisi cerah tanpa tutupan awan tebal. Kondisi udara yang bersih tidak hanya membuat cahaya bulan tampak lebih cemerlang, tetapi juga mempertegas gradasi warna hangat bulan saat masih berada di dekat garis cakrawala.

Kombinasi antara langit yang cerah, pemilihan tempat yang lapang, serta ketepatan waktu saat bulan mulai menyembul di ufuk timur akan menjadi kunci utama bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati salah satu atraksi langit pertengahan tahun 2026 ini. (Bunga Faizati Hudianna).

Editor : Iwa Ikhwanudin
#micromoon #lintasan unik #strawberry moon #zona waktu #waktu terbaik