Dalam beberapa waktu terakhir, perbincangan mengenai profesi penjaga mercusuar mendadak viral di berbagai platform media sosial. Banyak konten mengeklaim bahwa pekerjaan menjaga mercusuar paling ekstrem di dunia—seperti Mercusuar La Jument di lepas pantai Brittany, Prancis—menawarkan gaji fantastis hingga puluhan miliar rupiah per tahun, bahkan ada yang menyebut angka Rp18 miliar.
Namun, sebelum membayangkan hidup menjadi miliarder mendadak, ada baiknya meluruskan fakta di balik mitos gaji fantastis tersebut serta melihat realita sebenarnya dari profesi yang penuh risiko ini.
Apakah benar gajinya mencapai Rp18 miliar?
Jawabannya adalah tidak. Klaim gaji miliaran atau Rp18 miliar per tahun untuk penjaga mercusuar La Jument merupakan hoaks/mitos internet yang disebarkan demi menarik views dan engagement di media sosial.
Mercusuar La Jument telah diotomatisasi secara penuh sejak tahun 1991. Artinya, tidak ada lagi lowongan kerja untuk tinggal dan menetap di dalam mercusuar tersebut. Sistem lampu, lensa, dan generatornya kini dipantau secara jarak jauh menggunakan komputer dari daratan utama di Ouessant.
Baca Juga: Pemkab Klaten Komitmen Bersama Kembangkan Perkebunan dan Pertanian
Ketika mercusuar tersebut masih dijaga oleh manusia (sebelum tahun 1990-an), para penjaga adalah pegawai negeri sipil di bawah Kementerian Lingkungan dan Transisi Ekologis Prancis. Gaji mereka disesuaikan dengan standar gaji pegawai negeri setempat—bukan standar miliarder. Walaupun mereka menerima tunjangan risiko karena bertugas di kategori L'Enfer, pendapatannya tergolong wajar untuk kelas pekerja teknis di Prancis.
Tidak dapat dipungkiri bahwa sensasi fenomena La Jument tak pernah surut berkat foto ikonik karya Jean Guichard pada tahun 1989. Momen tersebut mengabadikan penjaga mercusuar bernama Théodore Malgorn yang keluar ke pintu bawah menara karena mengira suara helikopter adalah tim pengirim pasokan logistik.
Tanpa ia sadari, gulungan ombak setinggi belasan meter sedang membumbung tepat di belakang menara dan siap melumatnya. Malgorn berhasil melompat kembali ke dalam dan menutup pintu baja hanya beberapa detik sebelum air laut menghantam. Kepopuleran foto ini yang dikombinasikan dengan narasi-narasi sensasional di internet pada akhirnya melahirkan rumor gaji fantastis yang terus beredar hingga kini.
Meski angka Rp18 miliar itu fiktif, tingkat bahaya dan tekanan mental dari pekerjaan ini sangatlah nyata. Bertugas di La Jument pada masa lalu menuntut ketahanan fisik dan psikologis di luar batas manusia biasa.
Penjaga bertugas dalam rotasi 2–3 minggu. Namun, jika badai Atlantik datang, kapal logistik atau helikopter tidak bisa mendekat. Penjaga kerap terjebak di dalam menara granit selama berbulan-bulan dengan stok makanan seadanya.
Setiap kali gelombang setinggi 20–30 meter menghantam dinding luar, fondasi menara granit akan bergetar hebat. Suara dentuman air dan raungan angin badai menjadi musik latar harian yang menguji kesehatan jiwa.
Lensa Fresnel wajib dipastikan terus berputar dan generator tidak boleh mati. Jika lampu mercusuar padam sedikit saja di tengah badai, puluhan kapal bisa karam menghantam terumbu karang Ar-Gazec.
Baca Juga: Rayakan Hari Jadi ke-222, Klaten Tekankan Semangat Bersinar dan Gotong Royong
Saat ini, pekerjaan menjaga mercusuar di Prancis telah bertransformasi menjadi teknisi perawatan terpadu. Para teknisi tidak lagi tinggal berbulan-bulan di dalam menara laut lepas. Mereka hanya berkunjung menggunakan helikopter atau kapal khusus ketika ada jadwal perawatan rutin atau perbaikan sistem otomatisasi.
Pembahasan yang ramai di media sosial mengenai La Jument pada akhirnya menjadi pengingat bagi publik modern. Walau klaim gaji Rp18 miliar itu sekadar rumor internet, dedikasi para pekerja mercusuar ini di masa lalu tetap layak dihormati sebagai pahlawan sunyi yang pernah mengabdikan hidup di tengah "neraka" lautan demi keselamatan sesama.
Editor : Bahana.