Jejak Intelektual B.J. Habibie Diteruskan Sang Cucu, Nadia Habibie Dorong Industri Berteknologi Tinggi

Tita Aurelia Pitaloka • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 13:05 WIB
Postingan Instagram Pribadi Nadia Habibie & Alm. B.J. Habibie (Sumber: instagram.com/nadiashabibie & Pinterest)
Postingan Instagram Pribadi Nadia Habibie & Alm. B.J. Habibie (Sumber: instagram.com/nadiashabibie & Pinterest)

YOGYAKARTA – Nama Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie, selalu lekat dengan kejeniusan di bidang aeronautika dunia. Gelar doktor teknik penerbangan dengan predikat summa cum laude di usia 29 tahun dari RWTH Aachen Jerman, 46 hak paten bidang aeronautika, hingga penemuan rumus Faktor Habibie yang legendaris menjadi bukti nyata warisan akademiknya.

Kini, semangat dan warisan intelektual sang kakek terus bergelora lewat jalur yang berbeda dalam diri sang cucu, Nadia Sofia Habibie.

Dua Generasi, Dua Kampus Top Dunia

Jejak akademik B.J. Habibie diawali saat menempuh pendidikan Teknik Mesin di Institut Teknologi Bandung pada tahun 1954. Ia kemudian melanjutkan studi ke RWTH Aachen Jerman hingga meraih gelar Diplom-Ingenieur berpredikat cum laude pada 1960 dan gelar Doktor-Ingenieur berpredikat summa cum laude pada 1965. Dari riset doktoralnya, Habibie mengembangkan teori keretakan struktur pesawat yang membuatnya dijuluki Mr. Crack dan menghasilkan puluhan paten internasional di bidang aeronautika.

Baca Juga: Jejak Perry Warjiyo, Ekonom yang Meniti Karier dari Staf hingga Memimpin Bank Indonesia

Langkah brilian di dunia akademik dunia ini diteruskan oleh sang cucu, Nadia Sofia Habibie. Nadia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi (B.A.) di University of Chicago pada periode 2012 hingga 2015. Ia kemudian melanjutkan gelar Magister di bidang Finance (M.Sc.) di Imperial College Business School pada periode 2015 hingga 2016.

Meski menempuh disiplin ilmu yang berbeda, kedua generasi ini sama sama menempatkan riset dan pendidikan berkualitas tinggi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

Mendorong Indonesia Beralih dari Ekonomi Komoditas

Saat ini Nadia aktif berkiprah melalui The Habibie Center untuk menyuarakan pentingnya riset sains serta investasi teknologi tinggi di Indonesia. Dalam sebuah forum ilmiah di Institut Teknologi Bandung, ia menegaskan pentingnya Indonesia untuk segera menggeser fokus dari ekonomi berbasis komoditas menuju ekonomi industri berteknologi tinggi.

Pernyataan tersebut menjadi gaung nyata dari mimpi B.J. Habibie yang bercita cita membangun peradaban Indonesia lewat penguasaan ilmu pengetahuan.

Nadia juga menyoroti potensi besar sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia saat ini. Menurutnya, keberadaan sekitar 64 juta talenta muda Indonesia merupakan aset berharga yang harus dikelola dengan tepat agar potensi besar tersebut tidak menjadi terbuang sia sia demi menyongsong masa depan bangsa. (Tita Aurelia Pitaloka)

Editor : Bahana.
BJ Habibie Nadia Sofia Habibie