Langit Indonesia dihiasi pemandangan bulan purnama berwarna jingga pada Rabu (29/7) malam. Fenomena tersebut menarik perhatian banyak masyarakat yang mengabadikannya melalui foto maupun video di media sosial. Bulan purnama itu dikenal dengan sebutan Buck Moon, istilah yang digunakan untuk bulan purnama yang muncul setiap Juli.
Meski terdengar seperti fenomena astronomi yang langka, Buck Moon sebenarnya bukan jenis bulan yang berbeda ataupun peristiwa luar biasa. Istilah ini merupakan penamaan tradisional yang telah lama digunakan, terutama oleh masyarakat adat di Amerika Utara, untuk menyambut bulan purnama pada bulan Juli.
Nama Buck Moon berasal dari kata buck yang berarti rusa jantan. Sebutan tersebut merujuk pada masa ketika rusa jantan mulai menumbuhkan tanduk barunya setelah tanduk lama luruh. Dari pengamatan siklus alam itulah nama Buck Moon kemudian digunakan sebagai penanda datangnya bulan purnama Juli.
Pada kemunculannya tahun ini, Buck Moon tampak lebih besar dan berwarna jingga, terutama saat baru terbit di dekat cakrawala. Warna jingga tersebut bukan berasal dari perubahan pada Bulan, melainkan dipengaruhi oleh atmosfer Bumi. Ketika Bulan berada rendah di langit, cahayanya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal sehingga warna biru lebih banyak tersebar, sementara warna kuning hingga jingga lebih dominan terlihat oleh mata.
Baca Juga: Bocor di Red Carpet Premiere, Peran Misterius Sadie Sink di ‘Spider-Man: Brand New Day’ Terungkap!
Kesan Bulan yang tampak lebih besar juga dipengaruhi oleh ilusi Bulan (Moon Illusion), yaitu fenomena visual ketika Bulan terlihat berukuran lebih besar saat berada di dekat horizon dibanding ketika posisinya sudah tinggi di langit. Secara fisik, ukuran Bulan tidak mengalami perubahan.
Kemunculan Buck Moon 2026 juga bertepatan dengan periode menjelang musim gerhana yang diperkirakan berlangsung pada Agustus. Namun, Buck Moon bukan merupakan gerhana maupun penyebab terjadinya gerhana. Fenomena ini hanyalah bulan purnama yang hadir pada waktu tertentu dalam kalender tahunan.
Buck Moon juga berbeda dengan Blue Moon, meski sama-sama berkaitan dengan bulan purnama. Jika Buck Moon adalah nama tradisional untuk bulan purnama Juli, Blue Moon merupakan istilah bagi bulan purnama tambahan yang terjadi dalam satu periode kalender tertentu sehingga kemunculannya jauh lebih jarang.
Fenomena Buck Moon dapat disaksikan tanpa alat bantu khusus selama kondisi langit cerah. Momen terbaik untuk menikmatinya biasanya sesaat setelah Bulan terbit di ufuk timur, ketika warna jingga masih terlihat jelas dan ukuran Bulan tampak lebih besar karena efek visual.