Mengetahui Sejarah Saparan Jatianom Yang Menjadi Kekayaan Budaya Jatinom Klaten

joko suhendro • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 15:51 WIB
Maayarakat berebut apem dalam acara Sebaran Apem Jatinom di Plataran Sendang Klampean, samping Masjid Besar Jatinom, Jumat ( 31/7/2026) - Joko Suhendro
Maayarakat berebut apem dalam acara Sebaran Apem Jatinom di Plataran Sendang Klampean, samping Masjid Besar Jatinom, Jumat ( 31/7/2026) - Joko Suhendro

SEJARAH sebaran apem atau tradisi Yaa Qowiyyu itu sendiri bermula pada abad ke-16 hingga ke-17 oleh ulama besar penyebar Islam, Syekh Jatinom atau Ki Ageng Gribig. Tradisi ini berpusat di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dan dilangsungkan setiap bulan Sapar (Safar) dalam penanggalan Jawa.

Asal-usul dan perkembangan tradisi ini, berawal dari kepulangan Ki Ageng Gribig dari Tanah Suci (Berhaji) yang membawa oleh-oleh berupa tiga buah kue apem untuk dibagikan kepada keluarga dan masyarakat.
Karena jumlah apem tidak cukup untuk dibagikan ke banyak warga yang hadir, maka dibuatlah adonan sebagai materi pembuat apem.

 Setelah itu, Ki Ageng Gribig berdoa memohon kepada Allah S.W.T sambil membaca zikir "Yaa Qowiyyu". Dengan zikir tersebut, adonan apem yang dibuatnya kemudian bertambah banyak dan cukup untuk dibagikan merata.
Peristiwa tersebut kemudian diabadikan menjadi ritual tahunan berupa pembagian atau sedekah apem yang kini menarik ratusan ribu peziarah dan warga dari berbagai daerah.

Kata Apem itu sendiri berasal dari kata bahasa Arab "afwan" atau "afuwun" yang berarti ampunan atau maaf, sebagai simbol permohonan ampun kepada Tuhan dan maaf antarmanusia. Sedangkan arti kata Yaa Qowiyyu berasal dari doa "Yaa qowiyyu, yaa aziz, qowina wal muslimin" yang bermakna memohon kekuatan lahir dan batin kepada Allah SWT.

Baca Juga: Gelar Sebaran Apem Jatinom, Bupati Klaten Ajak Teladani Ki Ageng Gribig

Puncak acara (Saparan) dilaksanakan tiap hari Jumat pada pertengahan bulan Sapar. Dengan berjalan kaki, yang dimeriahkan dengan marching band, kesenian reog dan atraksi budaya lainnya, warga mengarak gunungan apem lanang (Pria) dan wadon (Wanita) dari Halaman Kantor Kecamatan Jatinom menuju kompleks Masjid Besar Jatinom dan Makam Ki Ageng Gribig.

Setelah didoakan sesaat setelah Salat Jumat, apem-epem yang jumlahnya ribuan disebar dari atas menara untuk diperebutkan masyarakat sebagai simbol keberkahan. 

Apem itu sendiri merupakan penganan khas Jawa. Bahan utama membuat apem khas Jatinom meliputi tepung beras, tepung terigu, dan gula pasir. Seiring perkembangan zaman, apem ini menjadi produk UMKM yang memiliki nilai ekonomis, sebagai oleh oleh khas Jatinom seperti halnya bakpia untuk di Yogyakarta. Saat ini oleh warga masyarakat Jatinom, apem diproduksi dengan berbagai varian rasa dan dijual bebas di wilayah Jatinom. (jko)

Editor : Bahana.
saparan jatinom sebaran apem klaten jawa tengah