Lima Kalurahan di Kulon Progo Mengalami  Kekeringan, Dapat Jatah Droping Air Bersih dari BPBD 

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 08:27 WIB
MENCARI: Eka mencari toren air yang masih terisi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 
MENCARI: Eka mencari toren air yang masih terisi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 

 KULON PROGO - Musim kemarau membuat sejumlah wilayah di Bumi Binangun mengalami kekeringan. Terutama kalurahan dengan geografis perbukitan yang kehilangan sumber air baku untuk keseharian masyarakat. Menanggapi kondisi itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo telah menggelontorkan bantuan droping air bersih.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulon Progo Budi Prastawa menyampaikan, puluhan tangki air bersih dengan kapasitas ribuan liter telah didistribusikan. Penyaluran didasarkan atas permintaan warga yang biasanya disampaikan pemerintah kalurahan melalui proposal.

"Sudah 21 tangki air kami salurkan, itu berasal dari bantuan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)," ucap Budi, Minggu (2/8/2026).

Budi menjelaskan, BPBD Kulon Progo belum sepenuhnya menggunakan APBD untuk droping air. Pasalnya, pagu anggaran dari APBD digunakan untuk keadaan kedaruratan. Apabila masih terdapat skema anggaran lain, maka BPBD memanfaatkan bantuan dari Baznas atau swasta untuk dropping air. Jika bantuan dari pihak ketiga telah habis, maka BPBD masih memiliki anggaran utama Rp 7 juta untuk dropping air sejumlah 7 tanki.

Baca Juga: SMP Negeri 2 Galur Kulon Progo Mengalami Krisis Guru, Penyebabnya: Angka Pensiun Lebih Besar Dibanding Jumlah Rekrutan

Selama sebulan terakhir, puluhan tangki distribusi air bersih menyasar lima kalurahan. Mayoritasnya berada di Perbukitan Menoreh. Diantaranya, Kalurahan Sidoharjo, Jatimulyo, Hargowilis, Hargotirto, dan Pendoworejo. Lima kalurahan ini merupakan wilayah langganan kekeringan. Sehingga, saat kemarau pemkal rutin meminta bantuan droping air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Sejauh ini Padukuhan Clapar I sudah menerima empat kali dropping air," ungkapnya.

Padukuhan Clapar I, Kalurahan Hargowilis menjadi wilayah penerima droping air bersih terbanyak sejauh ini. Hampir setiap minggu, BPBD Kulon progo rutin mengirimkan tangki air bersih. Kekeringan di padukuhan tersebut memang rutin terjadi. Pasalnya, kebanyakan warga disana memanfaatkan sumur dangkal untuk kebutuhan air bersih.

Penggunaan sumur dangkal dipastikan tak efektif saat kemarau. Pasalnya, debit air sumur akan turun drastis hingga masyarakat tak bisa mengambil air, walau menggunakan pompa. Di samping itu, masih banyak masyarakat yang belum menyambungkan jaringan air bersih ke rumah-rumah.

Baca Juga: Cokelat Rasa Rendang dan Wedang Uwuh, Inovasi Kuliner Nusantara yang Bikin Penasaran Hadir di Sleman

Kondisi kekurangan air bersih disampaikan warga Padukuhan Clapar I Eka Pranawa. Selama sebulan terakhir, Eka perlu bergantung dari pasokan air bersih di penampungan air komunal.

Pasalnya, sumur hingga pamsimas tak bisa diandalkan selama musim kemarau.

"Debit air sumur turun, jadi harus mengambil air dari tampungan hasil bantuan di minggu lalu," ungkapnya. (gas)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
air bersih perbukitan Parah kekeringan kulon progo