Menjaga Saluran Tetap Lancar, Kisah Petugas Sedot WC DPUPKP Kulon Progo II Sembilan Tahun Bergulat Dengan Kotoran, Awalnya Jijik Tapi Sekarang Menjadi Pengabdian

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 11:27 WIB
SEDOT: Petugas sedot WC melakukan penyedotan tinja yang memnuhi bak septic tank. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 
SEDOT: Petugas sedot WC melakukan penyedotan tinja yang memnuhi bak septic tank. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA) 

 KULON PROGO - Tiang listrik, telfon, hingga internet di Kota Wates kerap dipenuhi tempelan kertas bertuliskan "SEDOT WC SALURAN MAMPET". Tulisan yang tertempel di tiang itu, tak sekedar promosi jasa sedot wc. Namun bagian dari pengabdian profesi petugas sedot WC Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP). 

Setiap hari Hendra Gustanto, operator layanan sedot WC DPUPKP Kulon Progo rutin memanasi truk tangki tinja. Truk tangki berukuran 4 ribu liter itu, menjadi rekannya selama sembilan tahun terakhir. Saat mendapat panggilan dari pelanggan, truk tersebut langsung dikendarainya menuju rumah warga.

Melewati jalan sempit, hingga perbukitan truk mengantarkannya ke sebuah rumah warga di Kapanewon Nanggulan. Sesampainya di lokasi, pria paro baya itu langsung bertemu dengan pelanggan. Namun, pelanggan justru tak mengetahui lokasi pasti septic tank yang hendak disedot. Lantaran, bangunan rumah dan septic tank telah berumur lebih dari 25 tahun serta terjadi perubahan.

"Kendala di lapangan seperti ini, lokasi septic tank tidak diketahui, akhirnya kami mengandalkan pengalaman," ucap Hendra, Minggu (2/8/2026).

Baca Juga: Peringati 76 Tahun Hubungan RI-Rusia dan 35 Tahun ASEAN-Rusia, Gelar PERMIRA Summer Camp 2026, Saat Nasi Tumpeng Berpadu dengan Taiga di Ujung Finlandia

Berbekal pengalaman sembilan tahun, Hendra mengukur dan memperkirakan lokasi septic tank serta bak kontrol. Tangannya yang memegang cangkul mulai menggali sejumlah titik yang langsung menjelaskan titik septic tank. Tak butuh waktu lama untuk membuka septic tank dari situlah muncul aroma tak enak menyeruak.

Hendra tanpa ragu meminta agar pelanggan menjauh dari titik septic tank. Lantaran, aroma yang muncul merupakan gas metana yang telah mengendap puluhan tahun. Bagi sebagian orang aroma itu dapat mengagetkan hidung, bahkan ada kejadian orang tak kuat menahan hingga pingsan. Di samping itu,  gas metana mudah terbakar apabila tersulut percikan api.

Memastikan lubang septic tank aman, Hendra langsung menyiapkan pipa dan selang sedot. Bersama dengan kucuran air, tinja dalam septic tank yang telah berbentuk lumpur langsung disedot dengan pompa dari truk tinja. Terkadang sedotan pompa tinja tak kuat menarik lumpur, karena selang tersumpal akar pohon, hingga material padat lain.

"Kadang tersumbat akar, pembalut, hingga barang aneh lain, paling banyak palu atau martil," ungkapnya.

Baca Juga: Lima Kalurahan di Kulon Progo Mengalami  Kekeringan, Dapat Jatah Droping Air Bersih dari BPBD 

Jika tersumbat barang padat, Hendra perlu membersihkan sumbatan dengan tangan. Tentu bau dan kotoran akan menempel di tangannya. Namun, hal itu dianggapnya lumrah sebagai bagian pekerjaan. Tugasnya tak hanya menyedot lumpur tinja. Sebelum pulang, profesi sedot wc harus memastikan saluran wc tak mampet lagi.

Saat menangani saluran mampet, Hendra harus bekerja ekstra keras dan harus berkutat dengan mental. Pengalamannya selama sembilan tahun membentuk mental. Tinja yang masih terlihat di kloset menjadi pemandangannya setiap hari. Saat menemui saluran mampet, petugas harus menyedot semua tinja baru. Termasuk menggelontorkan sejumlah ratusan liter air untuk mendorong tinja agar lebih mudah tersedot.

Pekerjaan hendra baru selesai apabila semua aspek telah terpenuhi. Mulai dari pengembalian septic tank seperti semula, kebersihan, hingga kepuasan pelanggan. Di beberapa rumah, selesai dengan pekerjaannya Hendra kerap diberi makanan dan minuman. Tanpa mempedulikan pekerjaan sebelumnya, Hendra menghargai pemberian pelanggan dengan menyantap hidangan yang disajikan.

"Kalau dulu awal-awal mual, tidak mau makan karena masih teringat bentuknya (tinja) dan aromanya," ungkapnya.

Baca Juga: SMP Negeri 2 Galur Kulon Progo Mengalami Krisis Guru, Penyebabnya: Angka Pensiun Lebih Besar Dibanding Jumlah Rekrutan

Selama bekerja sebagai petugas sedot wc, penyesuaian dibutuhkan waktu tiga bulan. Lantaran, selama itu Hendra mengalami pengalaman yang tak dialami banyak orang. Harus berkutat dengan lumpur tinja yang berbau selama tiga jam membuat tak semua orang bisa melakukan pekerjaannya. Terkadang dalam sehari, Hendra harus menyedot tinja di dua rumah warga. Terutama saat musim penghujan, yang menyebabkan septic tank cepat penuh.

Hendra sempat berbagi tips ke pelanggan agar septictank awet dan tak mudah tersumbat. Perawatan rutin berupa menggelontorkan air yang banyak agar tinja tak mengumpul di saluran yang membuat mampet. Selain itu, pelanggan diminta tak membuang benda padat seperti pembalut yang dapat menyumbat saluran.

Sementara itu, Kepala UPTD Rumah Susun Sewa DPUPKP Kulon Progo Daryana menjelaskan, pemkab memiliki layanan sedot wc yang terjangkau dibandingkan swasta. Masyarakat dapat memanfaatkan layanan sedot WC sesuai kebutuhan dimulai dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 375 ribu. Tak hanya melakukan penyedotan, pihaknya turut mengolah tinja hasil sedotan di TPA Banyuroto. (gas)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Jijik petugas kebersihan kulon progo septic tank