MBG dan Koperasi Merah Putih Dinilai Hantam Sektor Konstruksi di Kulon Progo, Gapensi Soroti Lesunya Proyek Daerah

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:35 WIB
Pekerja proyek melakukan pengerjaan struktur bangunan sekolah rakyat di Kulon Progo. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
ILUSTRASI: Pekerja proyek melakukan pengerjaan struktur bangunan di Kulon Progo. (Foto: ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 KULON PROGO - Sektor konstruksi di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kulon Progo, tengah menghadapi masa sulit. Program-program prioritas pemerintah pusat seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dinilai turut menyebabkan lesunya industri konstruksi yang belum pulih sepenuhnya sejak pandemi Covid-19.

Kondisi ini mengemuka dalam Musyawarah Cabang Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) yang digelar di Novotel, Senin (3/8). Ketua Umum BPD Gapensi DIY, Zuharsono Ashari, menyampaikan bahwa sektor konstruksi sedang tidak baik-baik saja. Jumlah proyek pemerintah, terutama dari pemerintah daerah, mengalami penurunan drastis.

"Sektor konstruksi dihantam MBG dan KDMP," ucap Zuharsono, Selasa (4/8/2026).

Menurutnya, kedua program tersebut mengubah pola penganggaran pemerintah secara signifikan. Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk proyek pembangunan fisik kini banyak dialihkan untuk mendanai program prioritas nasional. Pergeseran ini membuat fiskal daerah semakin tertekan, dan dampaknya langsung dirasakan oleh perusahaan konstruksi di tingkat lokal.

Baca Juga: Pemprov DIY Bebaskan Denda Pajak Kendaraan, Kesempatan Dua Bulan untuk Bayar Pokok

Kelesuan sektor konstruksi tercermin dari penurunan jumlah perusahaan konstruksi di Kulon Progo. Pada tahun 2019, tercatat 180 perusahaan konstruksi. Namun, pada tahun 2026, jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya 66 perusahaan. Penurunan signifikan selama tujuh tahun terakhir ini tidak lepas dari dampak pandemi Covid-19 yang melumpuhkan anggaran dan aktivitas konstruksi.

"Belum sembuh dari keadaan, sektor konstruksi kembali dihantam kebijakan MBG dan KDMP," ungkap Zuharsono.

Ia menambahkan bahwa perusahaan konstruksi kini dituntut untuk lebih komunikatif, terutama dengan pemerintah daerah. Menjalin hubungan baik dengan pemangku kebijakan menjadi kunci untuk bertahan di tengah keterbatasan proyek.

Ketua BPC Gapensi Kulon Progo, Supracoyo, menyampaikan bahwa Muscab merupakan agenda rutin yang digelar setiap lima tahun sekali. Kegiatan ini berfungsi sebagai wadah untuk menyatukan visi dan pikiran antarperusahaan konstruksi dalam rangka mengembangkan sektor yang menjadi motor penggerak ekonomi ini.

Baca Juga: Siasat Tirta Handayani Jaga Pasokan Air Gunungkidul saat Puncak Kemarau Panjang

"Gapensi diharapkan mampu mendukung sektor konstruksi dan bermanfaat bagi pemerintah serta masyarakat," ungkapnya.

Muscab kali ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara perusahaan konstruksi dan pemerintah daerah. Dengan komunikasi yang baik, diharapkan sektor konstruksi dapat kembali bergairah dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

Meski situasi saat ini penuh tantangan, Gapensi optimistis sektor konstruksi akan bangkit kembali. Namun, diperlukan dukungan kebijakan yang berpihak pada industri ini, serta peran aktif semua pihak untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Hingga berita ini diturunkan, pelaku usaha konstruksi di Kulon Progo masih berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah agar sektor ini tidak terus terpuruk dan mampu kembali menjadi tulang punggung perekonomian daerah. (gas)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
Sektor Konstruksi Ekonomi Daerah kulon progo gapensi Mbg