Kisah Tiga Pengusaha Tahu di Lendah, Bangun Jembatan Apung dari Tong Bekas yang Kuat Dilintasi Mobil

Guntur Aga Tirtana • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:02 WIB
Jembatan apung dari tong-tong bekas yang kini menghubungkan Kulon Progo dengan Bantul. (Guntur Aga/Radar Jogja)
Jembatan apung dari tong-tong bekas yang kini menghubungkan Kulon Progo dengan Bantul. (Guntur Aga/Radar Jogja)

 KULON PROGO - Di tengah keterbatasan infrastruktur, munculah inovasi dari tangan-tangan kreatif masyarakat. Tiga pengusaha tahu asal Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menciptakan solusi. Mereka membangun jembatan apung dari tong-tong bekas yang kini menghubungkan Kulon Progo dengan Bantul. Tak tanggung-tanggung, jembatan darurat ini mampu menampung kendaraan roda empat dengan bobot hingga satu ton.

Ide brilian ini berawal dari keresahan puluhan pengusaha tahu di Lendah. Setiap tahun, mereka mengeluhkan sulitnya akses menuju pasar di Kabupaten Bantul dan Kota Jogja. Untuk mencapai jembatan terdekat, mereka harus menempuh jarak lima hingga sepuluh kilometer, padahal secara geografis, akses yang lebih dekat sebenarnya ada jika terdapat jembatan dari wilayah tengah Kapanewon Lendah.

"Kami bertiga yang merupakan pengusaha tahu akhirnya menginisiasi pembangunan jembatan ini," ujar Sukidi Tresno Utomo, sang inisiator, saat ditemui di lokasi, Rabu (5/8/2026).

Sukidi yang sehari-hari berprofesi sebagai pengusaha tenda itu pun menggambar desain jembatan apung secara sederhana. Bukan gambar teknik yang rumit, melainkan sketsa praktis yang langsung dikerjakan oleh tukang las. Pengalamannya puluhan tahun dalam bidang konstruksi, termasuk terlibat dalam pembangunan Jembatan Sesek Temben, menjadi modal berharga dalam merancang bangunan unik ini.

Baca Juga: Sorotan Kasus Pencibiran Pasien BPJS hingga Berujung Duka, Dokter PPDS UGM Ditarik dari RSUP Dr. Sardjito Jogja

Keunikan jembatan ini terletak pada material dasarnya. Sukidi memanfaatkan tong-tong plastik dan besi bekas sebagai penopang badan jembatan. Tong-tong tersebut diisi angin bertekanan agar dapat mengapung di atas air. Tong-tong itu disusun dan disambung dalam satu rangkaian menggunakan kanal baja. Setiap rangkaian terdiri dari lima tong, yang kemudian disambung dengan besi tambahan dan diperkuat dengan tali baja untuk menambatkan jembatan agar tidak tersapu arus Sungai Progo.

Proses pembangunan yang dimulai pada 2025 ini menghabiskan biaya sekitar Rp 150 juta, yang seluruhnya ditanggung Sukidi dan dua rekannya. Jembatan apung ini sempat beroperasi pada tahun yang sama, namun terputus akibat banjir bandang Sungai Progo. Beruntung, seluruh material masih tertambat dan tidak hanyut terbawa arus, sehingga tidak menimbulkan kerugian besar.

Kini, jembatan apung itu kembali berdiri kokoh dan menjadi jalur alternatif yang sangat berarti bagi masyarakat sekitar. Rata-rata, 30 hingga 50 kendaraan melintasi jembatan ini setiap harinya.

"Saya bersyukur jembatan ini bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, tidak hanya pengusaha tahu di sini," ucap Sukidi dengan penuh syukur.

Baca Juga: Cuma Punya Dua Pos, Sistem Proteksi Kebakaran di Kota Jogja Belum Ideal, Dinas Damkarmat Menanti Kekancingan untuk Tambah Satu Pos di Alun-alun Utara 

Meski tidak mematok tarif resmi, pengguna jembatan biasanya memberikan sumbangan sukarela. Untuk kendaraan roda empat, pengguna kerap memberi Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu. Uang itu digunakan untuk biaya perawatan dan menggaji petugas keamanan jembatan.

Salah satu pengguna setia, Suwardi, mengaku sangat terbantu. Setiap hari, pria paruh baya ini mengangkut serutan kayu untuk bahan bakar produksi tahu. Sebelum ada jembatan apung, ia harus memutar melalui Srandakan atau Bantar yang jaraknya mencapai belasan kilometer, menghabiskan waktu hingga 30 menit lebih.

"Kalau lewat sana, boros BBM dan waktu. Lewat sini, cukup bayar Rp 10 ribu, lebih cepat dan hemat," ungkapnya.

Jembatan apung ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dan kreativitas warga mampu mengatasi persoalan infrastruktur yang kompleks. Harapannya, cerita ini bisa menginspirasi daerah lain untuk berinovasi demi kemaslahatan bersama. Meski dibuat sederhana dari tong bekas, jembatan ini menyimpan makna besar tentang gotong royong dan semangat pantang menyerah. (gas)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Jembatan Apung Inovasi Masyarakat infrastruktur kulon progo bantul