Dugaan Keracunan MBG di Kulon Progo Meluas, Siswa dan Guru SMPN 1 Nanggulan Ikut Alami Mual hingga Diare

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 11:26 WIB
PULIH: Siswa SMPN 1 Nanggulan kembali beraktivitas kembali setelah gejala keracunan muncul. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
PULIH: Siswa SMPN 1 Nanggulan kembali beraktivitas kembali setelah gejala keracunan muncul. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 KULON PROGO - Kasus dugaan keracunan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terus berkembang. Setelah sebelumnya dilaporkan menimpa siswa SMKN 1 Nanggulan, kini puluhan siswa dan sejumlah guru SMP Negeri 1 Nanggulan juga mengalami gejala serupa.

Pihak sekolah mengungkapkan, para siswa dan guru mengeluhkan gangguan kesehatan berupa sakit perut, mual, muntah, hingga diare. Meski demikian, sekolah menegaskan belum dapat memastikan penyebab munculnya gejala tersebut dan masih menunggu hasil penyelidikan dari pihak berwenang.

Kepala SMP Negeri 1 Nanggulan, Sumarno, mengatakan tanda-tanda adanya kejadian luar biasa mulai terlihat ketika jumlah warga sekolah yang izin sakit meningkat drastis pada Selasa (4/8). Kondisi tersebut berbeda jauh dibandingkan hari-hari biasa.

"Yang izin sakit ada 19 siswa dan tiga guru," ujar Sumarno, Kamis (6/8/2026).

Baca Juga: UGM Jogja Investigasi Dugaan Dokter PPDS Cibir Pasien BPJS, FKKMK Tegaskan Empati dan Etika Tak Bisa Ditawar

Menurutnya, pada hari normal jumlah siswa yang tidak masuk karena sakit umumnya tidak lebih dari 10 orang. Lonjakan tersebut awalnya belum menimbulkan kecurigaan. Namun setelah pihak sekolah mencari informasi lebih lanjut, hampir seluruh siswa dan guru yang izin sakit mengeluhkan gejala yang hampir sama.

Mereka mengalami nyeri perut, mual, muntah, hingga diare. Kesamaan keluhan inilah yang kemudian memunculkan dugaan adanya keracunan makanan.

Pihak sekolah juga menerima laporan seorang siswa yang mengalami muntah berulang saat berada di sekolah sehingga harus dipulangkan lebih awal untuk mendapatkan perawatan.

Dari penelusuran yang dilakukan kepada sejumlah siswa, gejala gangguan kesehatan mulai dirasakan sejak Senin (3/8) malam, beberapa jam setelah mereka menerima dan mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Jalan Palagan Sleman, Dua Mahasiswa Tewas Usai Motor Oleng dan Tabrak Tembok

Meski demikian, Sumarno menegaskan sekolah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa program MBG menjadi penyebab utama munculnya gejala tersebut. Penentuan penyebab pasti, menurutnya, harus menunggu hasil pemeriksaan dari instansi terkait.

"Kami belum bisa menyimpulkan penyebabnya. Memang siswa dan guru sama-sama mengonsumsi MBG, tetapi kami menyerahkan proses penyelidikan kepada pihak yang berwenang," katanya.

Ia menambahkan, sepanjang pengalaman sekolah, kejadian serupa belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan sebelum program MBG berjalan, para siswa lebih banyak membeli makanan di kantin sekolah maupun pedagang sekitar tanpa pernah muncul kasus dugaan keracunan massal.

Salah seorang guru SMPN 1 Nanggulan, Suryati, turut menceritakan pengalamannya. Ia mengaku mulai merasakan sakit perut hebat pada Senin malam. Rasa mulas yang disertai mual membuatnya harus berkali-kali ke kamar mandi hingga kondisi tubuhnya melemah.

Baca Juga: Kecelakaan Maut di Jalan Palagan Sleman, Dua Mahasiswa Tewas Usai Motor Oleng dan Tabrak Tembok

"Mulas perutnya, mau muntah tapi tidak bisa, hanya mual-mual saja," ungkapnya.

Akibat kondisi tersebut, Suryati tidak dapat mengajar keesokan harinya. Ia kemudian mengetahui bahwa dua guru lain mengalami keluhan yang hampir sama.

Menurutnya, saat menyantap menu MBG pada siang hari, tidak ada hal yang dianggap mencurigakan. Dari sisi rasa maupun tampilan makanan, semuanya terlihat normal dan masih layak dikonsumsi, meski beberapa menu terkadang tidak sesuai dengan selera pribadi.

Kasus dugaan keracunan ini kini menjadi perhatian berbagai pihak karena melibatkan lebih dari satu sekolah penerima program MBG di wilayah Nanggulan. Pemerintah bersama dinas terkait masih melakukan investigasi untuk memastikan sumber penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa dan guru, termasuk melakukan pemeriksaan terhadap sampel makanan apabila diperlukan.

Hasil investigasi nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab kejadian sekaligus menjadi dasar evaluasi agar program pemenuhan gizi bagi pelajar tetap berjalan dengan aman dan memenuhi standar keamanan pangan. (gas)

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Berita Jogja Makan Bergizi Gratis kulon progo Nanggulan Mbg