GUNUNGKIDUL - Musim kemarau yang semakin panjang membuat warga Gunungkidul semakin kesulitan mendapatkan air bersih. Sumur-sumur mengering, sumber air di perbukitan semakin susah dijangkau, dan antrian di lokasi pengambilan air semakin panjang.
Di tengah kondisi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul terus bergerak. Hingga awal Agustus 2026, mereka sudah berhasil menyalurkan 216 tangki air bersih ke berbagai wilayah yang terdampak.
Angka 216 tangki itu bukan data sementara. Setelah rekapitulasi lengkap dilakukan, terlihat lonjakan signifikan. Hingga 21 Juli lalu, data sementara hanya mencatat 80 tangki.
Namun setelah seluruh distribusi Juli dihitung, jumlahnya melonjak menjadi 176 tangki. Ditambah delapan tangki di bulan Juni dan 32 tangki di awal Agustus, totalnya mencapai 216 tangki.
Baca Juga: RSA UGM Buka Suara: Perawat yang Cibir Pasien BPJS di Medsos Sudah Diinvestigasi Tim Etik
Di bulan Juli, wilayah yang paling banyak menerima bantuan adalah Kapanewon Rongkop dengan 72 tangki dan Tepus 64 tangki.
Sementara Panggang dan Wonosari masing-masing menerima 16 tangki, serta Saptosari delapan tangki. Memasuki Agustus, distribusi masih berlanjut. Wonosari kembali mendapatkan 16 tangki, sementara Saptosari dan Tepus masing-masing delapan tangki.
Tidak semua wilayah di Gunungkidul memiliki anggaran sendiri untuk dropping air. Berdasarkan data terbaru, hanya delapan kapanewon yang memiliki alokasi anggaran khusus, yaitu Gedangsari, Girisubo, Panggang, Purwosari, Rongkop, Semin, Tanjungsari, dan Tepus.
Sementara Karangmojo, Ngawen, Nglipar, Paliyan, Patuk, Playen, Ponjong, Saptosari, Semanu, dan Wonosari tidak tercatat memiliki anggaran dropping dari kapanewon.
Baca Juga: Astra Honda Siap Lanjutkan Performa Positif di ARRC Mandalika 2026
Kondisi inilah yang membuat peran BPBD semakin penting. Wilayah yang tidak memiliki anggaran sendiri tetap bisa mengajukan permohonan bantuan. Muhammad Ridwan, Operator Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Gunungkidul, menjelaskan bahwa salah satu penyaluran terbaru dilakukan ke Wonosari yang memang tidak memiliki alokasi anggaran kapanewon.
“Kemarin didistribusikan di Wonosari sebanyak 16 tangki, yang merupakan salah satu yang tidak punya anggaran dari kapanewon,” kata Ridwan.
Selain Wonosari, BPBD juga menyalurkan delapan tangki ke Kapanewon Ngawen pada Rabu (5/8). Langkah ini menunjukkan bahwa bantuan tetap bisa sampai ke warga meskipun wilayah mereka tidak memiliki anggaran mandiri.
Di balik angka-angka tersebut, BPBD juga sudah menyiapkan langkah antisipasi. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, menyatakan pihaknya sedang mengusulkan tambahan anggaran melalui skema Belanja Tidak Terduga (BTT). Tujuannya agar penyaluran air bersih tidak terhenti di tengah jalan ketika alokasi awal mulai menipis.
Baca Juga: Mengapa Generasi Muda Mulai Kembali Menggemari Buku Cetak?
“Anggaran dropping kita antisipasi, usulan tambahan melalui skema BTT,” kata Purwono melalui pesan, Kamis (6/8/2026).
Hingga saat ini, BPBD masih terus memantau kondisi di setiap wilayah. Penyaluran selanjutnya akan disesuaikan dengan permohonan warga dan tingkat kekeringan yang terjadi. Bagi masyarakat yang kesulitan air bersih, pintu bantuan BPBD tetap terbuka. Mereka bisa mengajukan permohonan agar bantuan segera sampai.
Musim kemarau belum berakhir. Namun dengan distribusi yang sudah mencapai 216 tangki dan komitmen untuk menambah anggaran, BPBD Gunungkidul berusaha memastikan warga tidak dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kekeringan. (cr1)
Editor : Iwa Ikhwanudin