RADAR MALIOBORO - Pemandangan di bawah Jembatan Kalahiyen di sepanjang aliran Sungai Barito, Kalimantan, membuat banyak orang terdiam.
Hamparan pasir dan lumpur kering membentang luas.
Orang-orang berjalan santai di dasar sungai yang biasanya dilalui perahu dan tongkang.
Foto yang dibagikan seorang profesor klimatologi itu cepat menyebar dan memicu pertanyaan besar: apakah ini dampak El Nino yang sedang kuat tahun ini?
Prof. Dr. Erma Yulihastin, ahli iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengunggah gambar tersebut di akun media sosialnya.
Ia menulis dengan nada hati-hati: “Sungai Barito Kering Imbas El Nino?” Foto yang dikirim oleh Sandi Widjaja dan timnya menunjukkan kondisi di kawasan Sungai Barito bagian utara pada awal Agustus 2026.
Baca Juga: Warga Desa Wonogiri Magelang Segel Kantor Desa dan Desak Kejari Magelang Usut Kades Junarsih
Di bawah struktur jembatan yang menjulang, sungai seolah kehilangan airnya. Dasar sungai terbuka lebar hingga memungkinkan pejalan kaki menyeberang tanpa perahu.
Sungai Barito merupakan salah satu urat nadi kehidupan di Kalimantan. Panjangnya ratusan kilometer, mengalir dari hulu di wilayah pedalaman hingga muara di Kalimantan Selatan. Selama ini sungai ini menjadi jalur utama transportasi barang, termasuk batu bara yang diangkut dengan tongkang besar. Ketika air surut ekstrem, aktivitas itu terancam terganggu. Warga sekitar yang bergantung pada sungai untuk kebutuhan sehari-hari juga merasakan dampak langsung.
Kondisi ini muncul di tengah peringatan para ahli tentang El Nino 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta BRIN sebelumnya memprediksi musim kemarau tahun ini lebih kering dan lebih panjang di banyak wilayah, termasuk sebagian Kalimantan. Curah hujan yang jauh di bawah normal pada Agustus hingga September berpotensi menurunkan debit sungai secara signifikan. Pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa saat El Nino kuat, sungai-sungai besar di Kalimantan seperti Barito dan Mahakam sempat mencapai titik kritis dan menghambat pelayaran.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa kekeringan sungai tidak semata-mata karena fenomena global. Sedimentasi yang tinggi, perubahan tata guna lahan di hulu, serta pola hujan lokal juga berperan. Beberapa warga yang melihat foto tersebut mengaku terkejut karena biasanya sungai masih menyisakan aliran meski di musim kemarau. Ada pula yang meminta verifikasi lebih lanjut agar informasi yang beredar akurat.
Dampaknya bisa meluas. Gangguan transportasi sungai berpotensi mempengaruhi pasokan energi jika pengiriman batu bara terhambat. Sektor pertanian dan kebutuhan air bersih masyarakat di sekitar DAS Barito juga rentan. Pemerintah daerah dan instansi terkait biasanya meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan serta ketersediaan air saat kondisi kering berkepanjangan.
Foto di bawah Jembatan Kalahiyen menjadi pengingat nyata bahwa perubahan cuaca ekstrem kian terasa di tingkat lokal. Sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan kini memperlihatkan wajahnya yang rapuh. Masyarakat, pemerintah, dan peneliti terus memantau perkembangan debit air sambil menantikan hujan yang diharapkan datang di bulan-bulan mendatang. Apakah kondisi ini hanya sementara atau akan berlanjut, masih menjadi pertanyaan terbuka yang dijawab oleh alam sendiri.
Editor : Iwa Ikhwanudin