KULON PROGO – Pagi di sejumlah wilayah Kulon Progo belakangan terasa berbeda. Sebelum matahari benar-benar menghangatkan bumi, kabut tebal lebih dulu menyelimuti kawasan permukiman dan jalanan.
Bagi sebagian warga, pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, kabut yang turun cukup pekat juga membawa risiko, terutama bagi pengendara yang harus melintas ketika jarak pandang masih terbatas.
Fenomena kabut pagi ini berkaitan erat dengan kondisi musim kemarau. Prakirawan Stasiun Meteorologi (Stamet) Jogjakarta Bhakti Wira Kusumah menjelaskan, kemunculan kabut justru menjadi salah satu fenomena yang cukup lazim ketika udara malam hingga dini hari mengalami pendinginan.
Menurut Bhakti, Indonesia saat ini masih berada dalam periode kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga penghujung tahun. Kondisi tersebut membuat peluang terbentuknya kabut di sejumlah daerah semakin terbuka.
Baca Juga: Aduan Evakuasi Nonkebakaran di Jogja Melonjak, Damkarmat Mulai Selektif Tangani Laporan
“Kabut saat musim kemarau merupakan fenomena yang cukup umum karena suhu udara cenderung dingin,” ujar Bhakti, Minggu (9/8).
Ada proses alam yang berlangsung sebelum kabut akhirnya terlihat oleh mata. Pada musim kemarau, massa udara dingin dari Australia bergerak ke arah utara dan mencapai wilayah Indonesia, termasuk kawasan selatan Pulau Jawa.
Aliran udara tersebut ikut menurunkan suhu lapisan udara dekat permukaan. Pada siang hari, permukaan tanah tetap menerima panas matahari. Namun, ketika malam datang, panas tersebut perlahan dilepaskan sehingga temperatur kembali turun.
Di Kulon Progo, suhu minimum bahkan dapat berada di sekitar 20 derajat Celsius.
Pada saat yang sama, permukaan tanah dan lingkungan sekitar tetap menyimpan uap air. Ketika udara semakin dingin pada malam hingga menjelang pagi, uap air tersebut mengalami kondensasi.
Uap air kemudian berubah menjadi butiran-butiran air berukuran sangat kecil yang melayang dekat permukaan tanah. Kumpulan butiran itulah yang kemudian terlihat sebagai kabut.
“Kondensasi tersebut menghasilkan titik-titik air yang melayang di udara dan akhirnya membentuk kabut,” jelasnya.
Kulon Progo memiliki kondisi geografis yang mendukung terbentuknya fenomena tersebut. Wilayah Bumi Binangun memiliki cukup banyak aliran air dan kawasan dengan vegetasi yang masih relatif rapat.
Baca Juga: Warga Garongan Kembali Pasang Spanduk Protes, Soroti Eks Lurah Jadi Tahanan Rumah
Keberadaan sumber air membuat kelembapan udara di sejumlah lokasi tetap tinggi. Sementara vegetasi yang lebat turut memengaruhi kondisi suhu dan kelembapan lingkungan.
Situasi ini berbeda dengan kawasan perkotaan yang memiliki tutupan vegetasi lebih sedikit. Menurut Bhakti, kondisi tersebut membuat peluang terbentuknya kabut tebal di kawasan perkotaan cenderung lebih rendah.
Fenomena kabut diperkirakan masih berpotensi muncul hingga akhir Agustus. Karena itu, masyarakat yang beraktivitas sejak dini hari hingga pagi diminta tidak menganggap remeh kondisi tersebut.
Kabut yang cukup tebal dapat memangkas jarak pandang secara signifikan. Pengendara sepeda motor maupun mobil disarankan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menggunakan lampu kendaraan ketika kondisi pandangan mulai terganggu.
Baca Juga: Dukung Praktik Profesional Dokter, Halodoc Kenalkan Ekosistem 'Halodoc for Doctors' di Yogyakarta
Pengalaman serupa dirasakan Poniman, warga Kapanewon Galur. Ia mengaku kabut belakangan cukup sering muncul di sekitar rumah sekaligus tempat usahanya.
Kabut biasanya mulai terlihat sejak subuh dan bertahan hingga sekitar pukul 07.00 WIB. Kondisinya paling pekat sekitar pukul 06.00 WIB.
“Kalau paling tebal sekitar pukul 06.00 WIB. Jarak pandang jadi terbatas,” tuturnya.
Kabut pagi mungkin menjadi bagian dari wajah Kulon Progo saat kemarau. Tetapi di balik suasana dingin dan pemandangan yang tampak tenang, pengendara tetap perlu berhati-hati karena jalan yang sama bisa terasa jauh berbeda ketika pandangan terhalang kabut.
Baca Juga: Astra Motor Yogyakarta Raih Community Advisor Kategori Sport Class Di AHSRIC
Editor : Iwa Ikhwanudin