Senam Pagi Berujung Petaka di Sleman, Tembok SDN Minomartani 2 Roboh Timpa 10 Warga

Delima Purnamasari • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 16:42 WIB
Penanganan tembok roboh. (Dokumentasi Polresta Sleman)
Penanganan tembok roboh. (Dokumentasi Polresta Sleman)

 SLEMAN – Suasana peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Mlandangan, Kalurahan Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Sleman, mendadak berubah menjadi kepanikan. Warga yang semula berkumpul untuk mengikuti jalan sehat dan senam bersama justru harus berhadapan dengan musibah.

Tembok milik SDN Minomartani 2 tiba-tiba roboh dan menimpa warga yang sedang beristirahat di sekitar lokasi. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (9/8/2026), sekitar pukul 08.00 WIB.

Kegiatan pagi itu sebelumnya berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Sejumlah warga RW 002 Perum Minomartani mengikuti rangkaian kegiatan untuk menyambut hari kemerdekaan. Setelah jalan sehat dan senam, sebagian warga memilih duduk-duduk dan beristirahat di sekitar fasilitas umum yang berada di dekat tembok sekolah.

Tanpa diduga, bangunan pembatas tersebut ambruk.

Baca Juga: Kabut Tebal Selimuti Kulon Progo Setiap Pagi, Warga Diminta Waspada Saat Berkendara

PS. Kasihumas Polresta Sleman Iptu Argo Anggoro mengatakan tembok yang roboh merupakan bagian dari bangunan milik SDN Minomartani 2. Lokasinya berbatasan langsung dengan fasilitas umum yang biasa digunakan warga.

“Ketika tembok roboh, warga yang berada di sekitar lokasi ikut tertimpa,” ujar Argo saat dikonfirmasi, Minggu (9/8).

Sebanyak 10 warga mengalami luka-luka akibat kejadian tersebut. Mereka masing-masing berinisial ASAF, S, KM, ADS, AN, FN, SL, L, LSAF, dan BRIS.

Sesaat setelah kejadian, warga dan petugas langsung melakukan evakuasi. Para korban kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pertolongan medis.

Baca Juga: Aduan Evakuasi Nonkebakaran di Jogja Melonjak, Damkarmat Mulai Selektif Tangani Laporan

Enam korban sempat menjalani perawatan di RS Condongcatur. Sementara dua korban mendapat penanganan di RS Hermina dan dua lainnya dibawa ke RS UAD. Sejumlah korban selanjutnya dirujuk untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut sesuai kondisi masing-masing.

Peristiwa tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan di lokasi kejadian. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), tembok yang roboh memiliki panjang sekitar 20 meter dengan tinggi kurang lebih 1,5 meter.

Bangunan tersebut diketahui terbuat dari batako semen dan diperkirakan telah berdiri sejak sekitar 1980. Petugas juga menemukan kondisi konstruksi yang patut menjadi perhatian. Tembok tersebut disebut tidak memiliki pondasi dan besi cor penyangga yang memadai.

Namun demikian, polisi belum menyimpulkan bahwa kondisi konstruksi tersebut menjadi penyebab utama robohnya tembok.

Baca Juga: Target Retribusi Parkir Kulon Progo Naik 65 Persen, Dishub Kejar Rp1,18 Miliar di Tengah Tekanan Transfer Keuangan Daerah (TKD)

Saat kejadian berlangsung, tidak ditemukan aktivitas warga yang menyentuh atau melakukan kegiatan langsung pada tembok. Karena itu, penyebab pasti bangunan tersebut ambruk masih menjadi bagian dari penyelidikan.

“Penyebab pastinya sampai sekarang masih kami dalami,” kata Argo.

Kejadian di Minomartani menjadi pengingat bahwa bangunan yang telah berusia puluhan tahun perlu mendapat perhatian serius. Terlebih jika bangunan berada di sekitar ruang publik yang setiap hari digunakan masyarakat.

Polresta Sleman mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di sekitar tembok, pagar, bangunan, maupun fasilitas umum yang sudah berusia lama. Kondisi fisik seperti retakan, kemiringan, atau kerusakan lainnya sebaiknya tidak diabaikan.

Baca Juga: Warga Garongan Kembali Pasang Spanduk Protes, Soroti Eks Lurah Jadi Tahanan Rumah

Pengelola fasilitas umum dan pemilik bangunan juga diminta segera melakukan pemeriksaan serta perbaikan apabila ditemukan bagian bangunan yang berpotensi membahayakan.

Peringatan kemerdekaan seharusnya menjadi ruang bagi warga untuk berkumpul dan merayakan kebersamaan. Namun, insiden di Minomartani mengingatkan bahwa keselamatan tetap harus menjadi perhatian utama, bahkan ketika sebuah kegiatan berlangsung dalam suasana santai dan penuh kegembiraan. (del) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Kecelakaan Sleman tembok roboh Minomartani SDN Minomartani 2 Polresta Sleman sleman