GUNUNGKIDUL - Sore yang tenang di Padukuhan Ngaliyan, Kalurahan Pulutan, Kapanewon Wonosari, mendadak berubah menjadi kepanikan mencekam. Angin sore yang berembus pelan pada Minggu (9/8/2026) tak menyangka akan membawa petaka bagi Supadi (55). Niat hati hanya ingin membersihkan limbah dan sisa pakan ternak di area sekitar kandang, namun percikan api kecil justru menjelma menjadi kobaran jago merah yang mengamuk hebat.
Sekitar pukul 17.00 WIB, kepulan asap hitam pekat tiba-tiba membumbung tinggi ke udara, memecah ketenangan warga sekitar. Rasa panik menjalar seketika saat tetangga menyadari bahwa api sudah membesar, melahap tumpukan jerami kering yang tersimpan rapi di dalam bangunan kandang milik Supadi. Jerami yang selama ini dikumpulkan penuh perjuangan sebagai tumpuan pakan ternak, dalam hitungan menit musnah menjadi abu.
Aroma sangit dan hawa panas membakar memicu aksi gotong royong mendadak dari warga setempat. Dengan peralatan seadanya, mereka berhamburan bahu-membahu menyiramkan air untuk menahan laju amukan api agar tidak menjalar ke pemukiman lain. Kepanikan baru mereda setelah armada dari UPT Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kabupaten Gunungkidul tiba di lokasi kejadian.
Petugas Damkarmat bersama unsur terkait bergerak cepat melakukan pemadaman secara intensif. Tak sekadar memadamkan api yang membubung, petugas juga melakukan proses pendinginan menyeluruh demi memastikan tak ada lagi bara tersembunyi di balik tumpukan abu jerami yang berpotensi memicu kobaran susulan.
Baca Juga: Palang KA di Gamping Sleman Patah Dirusak Pengendara Motor, KAI: Jangan Terobos Saat Mulai Menutup
Kepala UPT Damkarmat Kabupaten Gunungkidul, Handoko, mengonfirmasi bahwa dugaan sementara penyebab kebakaran berawal dari aktivitas pembersihan limbah pakan di samping kandang. Meskipun musibah ini tidak menelan korban jiwa maupun luka-luka, kerugian material yang dialami Supadi ditaksir mencapai Rp5 juta—sebuah angka yang cukup berat bagi seorang peternak lokal yang menggantungkan hidup dari ternaknya.
Peristiwa pilu ini menjadi tamparan keras dan pengingat berharga bagi seluruh masyarakat, khususnya para peternak. Kebiasaan membakar sampah atau sisa pakan di dekat material yang mudah terbakar seperti jerami, rumput kering, maupun kayu sangat berisiko fatal jika diabaikan walau sesaat.
Imbauan tegas pun datang dari pihak kepolisian. Kapolsek Wonosari, Tri Wibawa, menekankan pentingnya meningkatkan kewaspadaan sejak awal sebelum musibah penyesalan itu datang. Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari sumber api terkecil, termasuk memastikan api benar-benar padam total sebelum ditinggalkan.
"Api kecil bisa menjadi masalah besar. Waspada, cegah, dan jangan tinggalkan api tanpa pengawasan," tegas Tri Wibawa saat memberikan keterangannya, Senin (10/8/2026).
Baca Juga: Palang Perlintasan KA Banyumeneng Sleman Dirusak Pria 24 Tahun, Diduga Mabuk hingga Tantang Petugas
Meski duka menyelimuti, kehangatan empati warga Ngaliyan tetap menyala.
Usai api dipastikan padam total dan lokasi dinyatakan aman, warga tak tinggal diam.
Mereka kembali berkumpul, bahu-membahu membantu Supadi membersihkan puing-puing sisa kebakaran serta memperbaiki bangunan kandang secara mandiri. Dari abu kebakaran ini, tersisa pelajaran berharga tentang pentingnya kewaspadaan dan indahnya kepedulian antar tetangga di pelosok Gunungkidul. (cr1)
Editor : Iwa Ikhwanudin