Kebakaran Bromo Meluas, 742 Hektare Terbakar: Saat Api Memukul Nafkah Warga

Seli Sulistiani • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:36 WIB
Kebakaran di Bromo semakin meluas.
Kebakaran di Bromo semakin meluas.

 BROMO – Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menyisakan persoalan yang jauh lebih besar dari sekadar luasan hutan yang terbakar. Di balik kepulan asap dan perjuangan petugas menjinakkan api, ada roda ekonomi warga yang ikut terhenti.

Sejak kebakaran dilaporkan muncul di Blok Bantengan pada Senin (3/8/2026), api terus merambat di kawasan TNBTS. Hingga Senin (10/8), area yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 742 hektare.

Petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman. Penanganan dilakukan melalui jalur darat dan dukungan operasi udara untuk menjangkau titik-titik yang sulit diakses.

Situasi tersebut membuat Balai Besar TNBTS mengambil langkah tegas. Seluruh kawasan wisata Bromo ditutup mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Baca Juga: Bantu Dosen Hadapi Pelaporan BKD, Dunia Dosen Gelar Exclusive Class SISTER Update Mastery

Keputusan itu diambil demi alasan keselamatan. Kawasan yang sedang dilanda kebakaran tentu bukan tempat yang aman bagi wisatawan. Penutupan juga diperlukan agar petugas dapat lebih leluasa menjalankan operasi pemadaman dan penanganan di lapangan.

Namun, bagi masyarakat yang hidup dari pariwisata Bromo, penutupan kawasan membawa konsekuensi lain.

Ketika kendaraan wisatawan tak lagi memenuhi jalur menuju Bromo, penghasilan para pemilik jeep ikut tersendat. Penginapan kehilangan tamu. Warung-warung menjadi lebih sepi. Begitu pula para pemandu wisata yang selama ini mengandalkan kedatangan wisatawan sebagai sumber penghidupan.

Dampaknya terasa di sejumlah wilayah yang selama ini menjadi bagian penting dari pergerakan wisata Bromo, termasuk Jemplang dan Ngadas.

Baca Juga: Mahasiswa Ngamuk Rusak Bendera dan Palang Pintu Kereta di Sleman-Bantul, Polda DIY Ungkap Motifnya

Di kawasan tersebut, geliat ekonomi masyarakat berjalan beriringan dengan aktivitas wisata. Wisatawan datang membawa harapan bagi banyak keluarga. Ada yang mendapatkan penghasilan dari jasa transportasi, menyediakan makanan dan minuman, menjual kebutuhan wisatawan, hingga menawarkan tempat menginap.

Kini, ketika arus kunjungan berhenti, rantai ekonomi itu ikut melambat.

Kebakaran Bromo pun memperlihatkan wajah lain dari bencana lingkungan. Api tidak hanya menghanguskan vegetasi dan mengganggu ekosistem. Dampaknya dapat merambat hingga ke meja makan masyarakat yang menggantungkan hidup dari kawasan wisata.

Karena itu, pemulihan Bromo nantinya tidak cukup hanya dengan memastikan api benar-benar padam. Tantangan berikutnya adalah mengembalikan kondisi lingkungan secara bertahap sekaligus membantu kehidupan ekonomi masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: Menatap Wajah Baru Kulon Progo: Ketika Harapan Pembangunan Berpadu Restu Ngarso Dalem

Bromo bukan hanya destinasi wisata. Bagi warga di sekitarnya, kawasan ini juga merupakan ruang hidup dan sumber penghidupan.

Ketika Bromo terluka oleh kebakaran, masyarakat yang tumbuh bersama kawasan tersebut ikut merasakan dampaknya. Dan ketika proses pemulihan dimulai, mereka semestinya tidak ditinggalkan. (Seli) 

 

 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Kebakaran Bromo TNBTS Ngadas Jemplang Wisata Bromo