SLEMAN – Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda tak biasa pada Rabu pagi, 12 Agustus 2026. Gunung yang berdiri megah di perbatasan Yogyakarta dan Jawa Tengah ini melontarkan awan panas guguran tepat pukul 08.50 WIB, menambah deretan panjang catatan aktivitas vulkanik yang terus dipantau ketat oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Berdasarkan data resmi yang dirilis Badan Geologi, guguran material vulkanik tersebut diperkirakan meluncur sejauh 1.800 meter dari puncak. Peristiwa ini terekam dengan amplitudo maksimum mencapai 49,58 milimeter dan berlangsung selama 82,61 detik — durasi yang cukup untuk menggambarkan betapa besarnya energi yang dilepaskan gunung berapi paling aktif di Indonesia ini.
Material panas tersebut mengarah ke dua titik sekaligus, yakni ke arah barat daya menuju hulu Kali Krasak dan ke arah selatan menuju hulu Kali Boyong. Dua alur sungai ini memang dikenal sebagai jalur langganan luncuran awan panas maupun lahar dari Merapi, sehingga warga di sekitar bantaran sungai diminta untuk tetap waspada dan tidak lengah.
Menyikapi kejadian ini, BPPTKG kembali mengingatkan masyarakat agar menjauhi kawasan rawan bahaya serta menghindari aktivitas di sepanjang alur sungai yang berhulu langsung dari Gunung Merapi.
Imbauan ini bukan sekadar formalitas — mengingat karakter awan panas guguran yang bisa datang tiba-tiba dan bergerak cepat, jarak aman menjadi kunci utama keselamatan warga.
Baca Juga: 30 Tahun Wafat, Wartawan Bernas Udin Terus Diperjuangkan Raih Gelar Pahlawan Nasional
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada level SIAGA atau Level III.
Status ini menandakan bahwa potensi ancaman bahaya masih nyata dan warga di kawasan rawan bencana diharapkan terus mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan pihak berwenang.
Bagi masyarakat yang ingin memantau perkembangan aktivitas Merapi secara berkala, BPPTKG menyediakan kanal informasi resmi yang dapat diakses melalui tautan di linktr.ee/bpptkg. Melalui kanal ini, publik bisa mendapatkan update terkini seputar status, potensi bahaya, hingga rekomendasi jarak aman dari otoritas kegunungapian.
Kejadian awan panas guguran seperti ini memang bukan hal baru bagi Merapi.
Namun, konsistensi aktivitas ini justru menjadi pengingat penting bagi warga di lereng Merapi untuk tidak pernah menurunkan kewaspadaan, sekalipun aktivitas tampak "normal" dalam beberapa waktu terakhir.
Kesiapsiagaan warga, ditambah dengan kepatuhan terhadap rekomendasi resmi, tetap menjadi benteng pertama dalam mengurangi risiko dampak bencana.
Pemerintah daerah bersama BPPTKG dan instansi terkait juga terus melakukan koordinasi guna memastikan jalur evakuasi dan sistem peringatan dini tetap berfungsi optimal, mengingat Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif dan paling dekat dengan permukiman padat penduduk di Indonesia.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta