KULON PROGO — Tatapan mata Sudarsih tertuju kosong pada gulungan ombak selatan yang saling berkejaran.
Di atas pasir basah Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, perempuan paruh baya itu berdiri menahan deburan angin laut yang kini terasa dingin melingkupi dadanya.
Bagi Sudarsih, gelombang laut bukan lagi bentangan keindahan alam, melainkan ketakutan nyata yang saban hari merayap mendekati mata pencahariannya.
Selama belasan tahun menggantungkan hidup dengan berdagang makanan di Pantai Trisik, ia menjadi saksi bisu bagaimana sang samudra perlahan mengikis daratan.
Baca Juga: Lansia 83 Tahun di Tanjungsari Gunungkidul Meninggal Setelah Terbakar Saat Padamkan Api di Ladang
Garis pantai yang dulu membentang jauh di selatan, kini telah tergerus membentang mendekat ke arah utara.
Dalam kurun waktu satu dekade terakhir saja, bibir pantai diperkirakan telah mundur hingga 50 meter.
"Dulu, warung saya ini posisinya paling belakang. Di depan sana, ada sekitar 12 kios pedagang lain yang berjejer rapi," kenang Sudarsih dengan suara bergetar.
Saat pertama kali mendirikan kios, jaraknya masih terpisah sekitar 36 meter dari kejaran ombak.
Baca Juga: Siswa Kelas 9 Tembaki Sekolahnya Sendiri di Thailand, Bunuh Diri Usai Bersembunyi di Lantai 3
Namun, takdir berkata lain. Ombak ganas kini kerap menyapu hingga tepat di depan pintu warungnya.
Puncaknya terjadi pada Selasa lalu, saat ombak besar kembali menerjang, membasahi lantai kios dan menyisakan kecemasan mendalam.
Sudarsih khawatir, jika fenomena alami ini terus berlangsung tanpa penanganan berarti, Pantai Trisik beserta seluruh kenangannya akan benar-benar terhapus dari peta.
Baca Juga: Aruma Buka Luka yang Belum Pulih Lewat Single “Pura-Pura Hidup Lagi”
Ketakutan serupa merayap di dada Giyanto. Sebagai seorang nelayan sekaligus petani pesisir, laut adalah napas hidupnya.
Namun kini, laju abrasi yang mencapai satu hingga lima meter per tahun mengancam ladang cabai yang ia garap dengan tetes keringat.
Pesisir Trisik dikenal sebagai salah satu wilayah penyangga pasokan cabai nasional.
Jika abrasi ini dibiarkan terus mengganas, intrusu air asin dipastikan bakal merusak sumur-sumur warga.
Baca Juga: Beruang Ternyata Punya Cara Sendiri Mengamati Keindahan Alam
"Kalau air sumur sudah berubah asin, kami tidak bisa menanam cabai lagi. Tanah ini mati," tutur Giyanto lirih.
Upaya penyelamatan bukan tanpa keringat. Warga Banaran secara swadaya telah menanam ribuan bibit mangrove, pandan laut, hingga cemara udang.
Namun, benteng hijau itu tak kuasa menahan amukan Samudra Hindia. Bibit-bibit pohon gulung tikar, mati tersapu gelombang, menyisakan kepasrahan di wajah para penduduk.
Pemerintah setempat pun mengakui kondisi kritis ini.
Panewu Galur, Saryono, menyatakan bahwa laju abrasi di Pantai Trisik telah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.
Menurutnya, penghijauan saja tak lagi cukup untuk meredam keganasan gelombang.
Satu-satunya benteng pertahanan yang mampu menyelamatkan wilayah tersebut adalah pembangunan pemecah ombak (breakwater), layaknya yang berdiri kokoh di Pantai Glagah.
Baca Juga: Klaten Bersiap Jadi Panggung Motocross Internasional, Lima Rider Asing Siap Adu Cepat di Rowo Jombor
Namun, asa itu terbentur dinding tebal keterbatasan anggaran dan kewenangan daerah.
Pembangunan struktur pemecah ombak memerlukan biaya fantastis yang berada di bawah wewenang kementerian pusat.
Kini, di tengah ancaman hilangnya tempat tinggal dan mata pencaharian, warga Pesisir Trisik hanya bisa menengadah ke langit dan berharap ulur tangan pemerintah pusat segera datang—sebelum laut benar-benar menelan habis ruang hidup mereka. (gas)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja