BANTUL – Suasana pagi di kawasan Pantai Pandansimo, Poncosari, Srandakan, Bantul, berubah mencekam pada Selasa (11/8/2026). Gelombang tinggi dari laut selatan tiba-tiba menerjang kawasan permukiman di tepian pantai. Kekuatan ombak membuat tiga rumah warga mengalami kerusakan.
Bagi Sutini, warga yang rumah sekaligus warungnya terdampak, kejadian itu menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Sekitar pukul 07.00 WIB, dia sedang sibuk menyiapkan sejumlah kebutuhan untuk berjualan.
Tak lama berselang, suara hantaman keras terdengar. Gelombang besar datang dari arah pantai dan menerjang bangunan tempat tinggalnya.
Sutini spontan berlari menyelamatkan diri. Ketika menoleh kembali, bagian rumahnya sudah porak-poranda.
“Ndilalah kulo mlayu, tak liat rumahku dah ambruk,” kata Sutini saat ditemui di rumahnya, Rabu (12/8).
Saat gelombang menerjang, Sutini berada di rumah bersama suaminya, Ngatiman. Keduanya berhasil menyelamatkan diri. Namun, rumah yang telah mereka tempati sejak sekitar 1990-an itu mengalami kerusakan cukup parah.
Sutini mengaku selama puluhan tahun tinggal di kawasan tersebut, dirinya belum pernah menghadapi terjangan gelombang dengan dampak separah ini.
Di lokasi, puing-puing bangunan masih berserakan. Bongkahan bata memenuhi area sekitar rumah. Sebagian atap roboh, sedangkan sejumlah perabotan di dalam rumah tidak luput dari hantaman.
Meja, kursi, kulkas, lemari hingga perlengkapan makan mengalami kerusakan. Kondisi itu membuat aktivitas Sutini sebagai pedagang harus berhenti sementara.
Untuk sementara, dia memilih tinggal di rumah tetangga. Warung yang menjadi sumber penghasilannya juga belum bisa digunakan.
“Saat ini saya tidur di rumah tetangga dan nggak jualan dulu,” ujarnya.
Ngatiman, 50, menceritakan detik-detik sebelum rumah mereka dihantam gelombang. Dia mendengar suara keras seperti benturan benda besar dari arah pantai.
Baca Juga: Aruma Buka Luka yang Belum Pulih Lewat Single “Pura-Pura Hidup Lagi”
Merasa ada sesuatu yang tidak beres, Ngatiman segera keluar melalui pintu di sisi utara rumah. Keputusan itu membuat dirinya bisa menghindari bagian bangunan yang kemudian runtuh.
Menurut dia, hantaman gelombang membuat sebagian atap rumah ikut ambruk. Dinding bagian depan yang menggunakan batako juga jebol.
Air laut bahkan disebut masuk hingga sekitar 50 meter ke daratan. Tak hanya rumah Sutini dan Ngatiman, dua bangunan lain di sisi selatan juga terdampak.
Beruntung, kedua rumah tersebut sedang tidak ditempati saat gelombang tinggi terjadi. Bangunan itu biasanya digunakan warga untuk berjualan makanan.
Baca Juga: Klaten Bersiap Jadi Panggung Motocross Internasional, Lima Rider Asing Siap Adu Cepat di Rowo Jombor
Koordinator Satgas Linmas Jogo Segoro Pantai Samas-Pandansimo, Rias Pamuji, mengatakan kerusakan di kawasan Pantai Pandansimo meliputi satu rumah dengan kondisi parah dan dua rumah lainnya mengalami kerusakan sedang.
Selain bangunan, satu perahu milik KNMP juga dilaporkan mengalami kerusakan. Tingginya gelombang menjadi salah satu faktor yang memperparah dampak di kawasan pesisir tersebut.
“Gelombang bisa mencapai tiga meter,” kata Rias.
Setelah kejadian, petugas bergerak membantu warga membersihkan material bangunan yang berserakan. Sebanyak 10 personel diterjunkan untuk menangani reruntuhan rumah warga.
Baca Juga: Lansia 83 Tahun di Tanjungsari Gunungkidul Meninggal Setelah Terbakar Saat Padamkan Api di Ladang
Bagi keluarga Sutini dan warga terdampak lainnya, proses pemulihan tentu tidak berhenti setelah puing-puing dibersihkan. Rumah yang rusak dan aktivitas ekonomi yang terhenti menjadi persoalan yang harus mereka hadapi.
Di tengah ancaman gelombang tinggi di pesisir selatan Bantul, keselamatan warga kini menjadi perhatian utama. Peristiwa di Pantai Pandansimo menjadi pengingat bahwa kawasan pesisir memiliki risiko yang dapat berubah cepat, terutama ketika gelombang laut meningkat. (cin)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja