KULON PROGO – Laut selatan Kulon Progo sedang tidak bersahabat. Gelombang tinggi membuat aktivitas nelayan di Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, harus terhenti sementara.
Sejak beberapa hari terakhir, nelayan memilih tidak mengambil risiko melaut. Perahu-perahu jiking yang biasanya membawa mereka mencari ikan kini lebih banyak terparkir di daratan. Sebagian nelayan pun beralih sementara ke pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Nelayan Pantai Trisik, Giyanto, mengatakan gelombang tinggi mulai terlihat sekitar tiga hari sebelum puncak kejadian. Kondisi terparah terjadi pada Selasa (11/8), ketika tinggi gelombang di perairan selatan Kulon Progo diperkirakan mencapai empat hingga lima meter.
Informasi mengenai kondisi laut tersebut membuat nelayan memilih mengurungkan niat melaut.
Baca Juga: Ombak Setinggi Atap Hantam Pantai Pandansimo Bantul, Rumah dan Warung Warga Porak-Poranda
“Kemarin sempat ada informasi dari BMKG, akhirnya nelayan libur,” kata Giyanto, Rabu (12/8).
Menurut Giyanto, terdapat sekitar 30 nelayan yang biasa beraktivitas dari Pantai Trisik. Seluruhnya memilih tidak melaut karena keselamatan jauh lebih penting dibanding hasil tangkapan.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Perahu jiking yang digunakan nelayan setempat memiliki mesin berdaya relatif rendah. Untuk menembus gelombang tinggi ketika meninggalkan pantai saja sudah menjadi tantangan besar.
Jika dipaksakan, perahu bisa kehilangan keseimbangan dan terbalik. Bahkan, bahaya tidak hanya mengintai saat nelayan berangkat. Ketika berhasil melewati gelombang pertama, perahu berpotensi terseret semakin jauh ke tengah laut.
Kondisi itu dapat menyulitkan nelayan untuk kembali ke daratan. Kapasitas mesin dan bahan bakar yang terbatas menjadi persoalan tersendiri. Saat hendak kembali ke pantai, nelayan juga harus menghadapi gelombang tinggi yang menerjang dari arah laut.
“Waktu berangkat melaut yang berbahaya, perahu bisa terbalik,” ujarnya.
Ironisnya, kondisi laut sebenarnya sedang menawarkan hasil tangkapan yang cukup menjanjikan. Giyanto menyebut sejumlah jenis ikan tengah banyak ditemukan di perairan selatan Bumi Binangun.
Salah satunya ikan gogokan. Harga komoditas tersebut disebut dapat mencapai sekitar Rp300 ribu per kilogram. Potensi penghasilan itu tentu menjadi godaan bagi nelayan untuk tetap berangkat.
Baca Juga: Azizah MRDS, Pesilat Lombok yang Curi Perhatian karena Aksi Akrobatik dan Paras Mirip Zendaya
Namun, hasil tangkapan tidak sebanding dengan risiko yang harus dihadapi.
Selama libur melaut, para nelayan mengisi waktu dengan aktivitas yang tetap berkaitan dengan pekerjaan mereka. Sebagian memperbaiki perahu, mesin, maupun berbagai perlengkapan yang digunakan untuk melaut.
Sementara itu, nelayan yang memiliki lahan pertanian seperti Giyanto memilih menggarap kebun. Memasuki Agustus, sejumlah lahan pertanian di kawasan pesisir mulai memasuki masa tanam cabai secara serentak.
Beralih sementara ke pertanian menjadi salah satu cara nelayan bertahan ketika laut belum memungkinkan untuk dijamah.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulon Progo, Aris Widiatmoko, mengatakan kondisi gelombang tinggi diperkirakan masih berlangsung dalam dua hari ke depan.
Dia meminta nelayan tidak memaksakan diri mencari ikan selama kondisi laut belum aman. Keselamatan harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan berangkat.
“Kami mengimbau agar nelayan tidak memaksakan untuk melaut,” tegas Aris.
Bagi nelayan Pantai Trisik, laut bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Laut adalah bagian dari kehidupan mereka. Namun, ketika ombak meninggi dan risiko mengancam nyawa, menepi untuk sementara menjadi pilihan paling bijak.
Baca Juga: Aruma Buka Luka yang Belum Pulih Lewat Single “Pura-Pura Hidup Lagi”
Setidaknya hingga laut kembali bersahabat, perahu-perahu itu akan tetap menunggu di daratan. (gas)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Radar Jogja