Kemarau Panjang, Warga Banaran Kulon Progo Kini Bergantung pada Dropping Air Bersih

Anom Bagaskoro • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 17:42 WIB
BERSIH: Bupati Kulon Progo menuangkan air bersih ke penampungan kolam yang akan diambil warga. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)
BERSIH: Bupati Kulon Progo menuangkan air bersih ke penampungan kolam yang akan diambil warga. (ANOM BAGASKORO/RADAR JOGJA)

 KULON PROGO – Kemarau panjang mulai meninggalkan persoalan serius bagi warga di sejumlah wilayah Kulon Progo. Di Padukuhan Banaran, Kalurahan Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, air bersih kini menjadi kebutuhan yang harus diperjuangkan setiap hari.

Sumber-sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga perlahan kehilangan debit. Mata air mengecil, sementara sejumlah sumur mulai mengering. Kondisi tersebut membuat warga Banaran kembali mengandalkan bantuan air bersih melalui program dropping dari Pemerintah Kabupaten Kulon Progo.

Bagi warga lanjut usia seperti Sutiyo, 83, situasi tersebut bukan persoalan baru. Setiap musim kemarau, warga Banaran memang harus bersiap menghadapi kesulitan air. Namun, dia merasakan kondisi tahun ini lebih berat dibandingkan sebelumnya.

“Kalau kemarau pasti sulit air, kalau dulu masih bisa ambil air dari wilayah Giripurwo,” ujar Sutiyo, Rabu (12/8).

Baca Juga: Gelombang 5 Meter Mengamuk di Pantai Trisik, Nelayan Kulon Progo Pilih Bertani

Menurut Sutiyo, belasan tahun lalu warga masih bisa mengambil air dari mata air di wilayah tetangga. Lokasinya sekitar satu kilometer dari Banaran. Sumber tersebut menjadi andalan ketika sumur warga mulai tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun, kondisi mata air itu kini ikut berubah. Debitnya terus menurun, salah satunya karena semakin banyak warga yang memanfaatkan sumber air tersebut setiap hari.

Warga kemudian mencari sumber air alternatif. Salah satunya berada sekitar 500 meter dari permukiman. Setiap pagi, warga mendatangi mata air tersebut dengan membawa jeriken untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Persoalannya bukan sekadar jarak. Medan yang harus dilalui cukup menyulitkan, terutama bagi warga lanjut usia. Di tengah kemarau panjang, debit mata air tersebut juga semakin kecil sehingga waktu dan tenaga yang diperlukan untuk mendapatkan air menjadi lebih besar.

Baca Juga: Ombak Setinggi Atap Hantam Pantai Pandansimo Bantul, Rumah dan Warung Warga Porak-Poranda

Kondisi itu membuat dropping air menjadi tumpuan utama warga Banaran.

“Kami akhirnya cuma bisa mengandalkan dropping air seminggu sekali. Kalau tidak dropping, kami ambil dari mata air,” katanya.

Sutiyo sendiri sejak muda terbiasa ngangsu banyu atau mengambil air dari sumber mata air. Namun, usia yang telah melewati delapan dekade membuat aktivitas tersebut tidak lagi mudah dilakukan.

Kini, sekitar 20 kepala keluarga di Padukuhan Banaran bergantung pada pasokan air bersih yang didistribusikan pemerintah. Dalam sepekan, satu tangki berkapasitas sekitar 5.000 liter dikirim ke wilayah tersebut.

Baca Juga: Batu Nisan Mbah Mertua Djaduk Ferianto Dilepas Juru Kunci, Isak Tangis Ahli Waris Berakhir Damai di Pakuncen Jogja 

Air kemudian ditampung di tempat penyimpanan yang bentuknya menyerupai kolam ikan. Dari tempat itulah warga mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun, kebutuhan air yang tinggi membuat pasokan tersebut tidak bertahan lama. Air sebanyak satu tangki biasanya hanya mampu memenuhi kebutuhan warga selama sekitar tiga hari.

Setelah itu, warga kembali menghadapi persoalan yang sama: menunggu distribusi berikutnya atau berjalan menuju mata air yang debitnya semakin mengecil.

Pemkab Kulon Progo berupaya menjaga kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengatakan dropping air bersih menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk merespons dampak kemarau, termasuk distribusi ke Banaran pada Rabu (12/8).

Baca Juga: Pantai Trisik Terancam Hilang, Jeritan Warga Kulon Progo Saat Laut Mulai Menelan Rumah dan Mata Pencaharian Mereka

Menurut Agung, dropping air merupakan solusi jangka pendek karena dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Untuk dropping air, selain bersumber APBD kami juga bekerja sama dengan Baznas,” ujarnya.

Agung mengatakan pemerintah daerah telah mengantisipasi potensi kemarau panjang pada 2026. Karena itu, tambahan anggaran disiapkan untuk memperkuat program distribusi air bersih.

Kerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) juga dilakukan agar jangkauan bantuan dapat diperluas.

Baca Juga: Aruma Buka Luka yang Belum Pulih Lewat Single “Pura-Pura Hidup Lagi”

Bagi warga Banaran, satu tangki air bukan sekadar bantuan. Di tengah mata air yang terus melemah, pasokan tersebut menjadi penopang kehidupan sehari-hari—setidaknya sampai hujan kembali turun dan sumber-sumber air mulai bernapas lagi. (gas) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja
kemarau panjang air bersih kekeringan kulon progo girimulyo