SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan pada periode pengamatan Kamis dini hari, 20 Agustus 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan adanya guguran lava dengan jarak luncur mencapai 1.700 meter ke arah barat, tepatnya menuju aliran Kali Sat/Putih. Meski fenomena ini bukan hal baru, masyarakat di sekitar lereng Merapi diingatkan untuk tetap waspada karena potensi bahaya masih tinggi.
Cuaca di sekitar Merapi terpantau mendung dengan suhu udara berkisar 15,9–19,1 °C. Kelembaban udara sangat tinggi, hampir mencapai 100 persen, sementara angin bertiup tenang ke arah timur. Gunung terlihat berkabut dengan intensitas 0–III, dan tidak teramati adanya asap kawah. Kondisi ini membuat pemantauan visual menjadi terbatas, sehingga data kegempaan menjadi acuan utama dalam analisis aktivitas.
Seismograf mencatat 25 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–26 mm dan durasi hingga 169 detik. Selain itu, terdapat 13 kali gempa hybrid/fase banyak yang menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Satu kali gempa tektonik jauh juga terekam dengan durasi lebih dari 230 detik. Data ini menegaskan bahwa aktivitas magma di tubuh Merapi masih aktif dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Baca Juga: Tamasya Villa Malioboro, Villa Keluarga dengan Private Pool di Tengah Kota
BPPTKG menegaskan bahwa potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km. Pada sektor tenggara, ancaman meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat curah hujan tinggi di sekitar Merapi. Gangguan akibat abu vulkanik juga menjadi ancaman yang perlu diantisipasi, karena dapat berdampak pada kesehatan dan aktivitas sehari-hari.
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga). BPPTKG menekankan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah potensi bahaya. Jika terjadi perubahan signifikan, status aktivitas akan segera ditinjau kembali. Rekomendasi utama adalah tetap waspada, menghindari area berbahaya, dan selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG maupun BPPTKG.
Baca Juga: Apa Itu Kabel Optik? Sempat Bikin Semrawut Jogja, Kini Jadi Proyek Percontohan Nasional
Bagi warga di lereng Merapi, fenomena guguran lava bukan sekadar data teknis. Suara gemuruh guguran sering terdengar jelas di malam hari, menimbulkan rasa cemas sekaligus menjadi pengingat akan bahaya.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : BPPTKG Yogyakarta