FLORES - Pekan ini, perhatian dunia tertuju pada Nusa Tenggara Timur. Media internasional Al Jazeera turun langsung meliput kondisi warga Flores beberapa hari setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026. Laporan yang dirilis pada 19 Agustus 2026 ini memperlihatkan potret duka yang masih menyelimuti ribuan korban.
Setidaknya 68 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka. Namun, angka ini terus bertambah seiring pendataan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Hingga H+3 pascagempa, tercatat 70 orang meninggal, 1.182 orang luka-luka, dan lebih dari 40.000 warga terpaksa mengungsi di tenda-tenda darurat. Bayangkan, puluhan ribu jiwa harus kehilangan rumah dan hidup dalam keterbatasan.
Situasi paling memilukan terpantau di Desa Riung, Manggarai. Reporter Al Jazeera, Jessica Washington, menemukan keluarga-keluarga yang rumahnya hancur total. Mereka telah berhari-hari tidur di tempat terbuka, hanya beralaskan langit. Beberapa anak mulai jatuh sakit karena kondisi yang tak layak. Persediaan beras menipis, sementara banyak keluarga hanya bertahan di bawah lembaran plastik berlubang yang nyaris tak mampu menahan panas atau hujan.
Baca Juga: Senyum Tenang Fatimah di Tengah Demo BEM UI, Netizen Langsung Ingat Saffiyah Khan
Dalam laporan tersebut, terlihat warga memasang tulisan menyayat hati: "Kami benar-benar butuh bantuan". Bahkan, beberapa di antaranya nekat mencoba menghentikan truk logistik yang melintas, berharap mendapat uluran tangan. Pemandangan ini menjadi tamparan keras bahwa kebutuhan mendesak seperti makanan, air bersih, obat-obatan, selimut, dan tempat berlindung masih sangat sulit dijangkau.
Pemerintah Indonesia telah mengerahkan sekitar 1.800 personel gabungan TNI dan Polri untuk membantu distribusi bantuan. Namun, kendala jarak dan akses jalan yang rusak membuat bantuan belum menjangkau seluruh komunitas terdampak. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lebih dari 2.700 gempa susulan yang masih terus terjadi, menambah ketakutan para pengungsi yang sudah trauma.
Di tengah kepungan duka dan keterbatasan, sorotan Al Jazeera menjadi pengingat bagi kita semua. Di balik angka dan data, ada ribuan nyawa yang berjuang bertahan. Ada anak-anak yang demam di tengah tenda darurat. Ada ibu-ibu yang menangis kehabisan makanan. Bantuan memang sudah bergerak, tapi perjalanan masih panjang. Kini, denyut kemanusiaan kita sedang diuji.
(Catatan: Berita ini diolah berdasarkan laporan Al Jazeera dan data dari berbagai sumber terpercaya)
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber