Jauh Sebelum TikTok, Ratu Victoria Sudah Jadi “Influencer” Fashion Paling Berpengaruh

Alfiani Hidayatul Choiriyah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 13:47 WIB
Ratu Victoria
Ratu Victoria

 Influencer marketing sering dianggap sebagai fenomena baru yang lahir bersama media sosial. Padahal, konsep memanfaatkan popularitas seseorang untuk memengaruhi keputusan konsumen sudah berlangsung jauh sebelum internet ditemukan.

Pada abad ke-19, keluarga kerajaan Inggris, bangsawan, aktris, dan tokoh terkenal telah menjadi figur yang memiliki pengaruh besar terhadap tren dan perilaku masyarakat.

Salah satu sosok paling berpengaruh adalah Queen Victoria. Pengaruhnya terhadap dunia mode bahkan masih terasa hingga sekarang.

Salah satu contohnya adalah gaun pengantin berwarna putih yang dikenakannya ketika menikah dengan Pangeran Albert pada 1840. Pilihan tersebut mendapat perhatian luas dan ikut mendorong popularitas gaun pengantin putih, terutama di kalangan masyarakat kelas atas.

Baca Juga: Kenapa Saku Pakaian Wanita Sering Tak Fungsional? Ternyata Ada Sejarah Panjang di Baliknya

Seiring berkembangnya media cetak, berbagai gaya busana dan barang yang digunakan keluarga kerajaan semakin mudah diketahui masyarakat.

Majalah dan surat kabar memberitakan pakaian, perhiasan, hingga gaya hidup para tokoh terkenal. Masyarakat kemudian menjadikan mereka sebagai rujukan dalam menentukan tren.

Ketika Selebritas Menjual Produk

Pengaruh tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk urusan fashion. Produsen mulai menggunakan popularitas tokoh terkenal untuk memasarkan berbagai barang.

Aktris teater dan figur publik dapat muncul dalam iklan surat kabar maupun kartu perdagangan yang mempromosikan sabun, kosmetik, hingga produk kesehatan.

Kehadiran figur terkenal membuat sebuah produk memiliki nilai tambahan di mata konsumen. Barang tersebut tidak hanya dipandang berdasarkan manfaatnya, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup dan status sosial.

Fenomena itu semakin kuat seiring berkembangnya kelas menengah. Masyarakat yang memiliki daya beli lebih besar menjadi target pasar yang potensial.

Mereka tidak sekadar membeli barang, tetapi juga berusaha meniru gaya hidup tokoh yang dikagumi.

Prinsipnya Sama dengan Influencer Modern

Jika dibandingkan dengan era media sosial, perbedaannya terutama terletak pada medium yang digunakan.

Baca Juga: Loneliness Epidemic: Mengapa Banyak Teman di Media Sosial Justru Membuat Kita Kesepian?

Pada abad ke-19, pengaruh disebarkan melalui majalah, surat kabar, poster, kartu perdagangan, dan ilustrasi. Saat ini, pesan serupa dapat disampaikan melalui Instagram, TikTok, YouTube, atau platform digital lainnya.

Prinsip psikologisnya relatif sama: seseorang yang dianggap populer atau memiliki status tertentu dapat membentuk persepsi terhadap sebuah produk.

Karena itu, influencer marketing sebenarnya bukan konsep yang sepenuhnya baru. Teknologi hanya mengubah cara pengaruh tersebut disebarkan.

Dari kartu perdagangan era Victoria hingga video pendek di layar ponsel, dunia pemasaran terus menggunakan satu kekuatan yang sama: keinginan manusia untuk mengikuti figur yang mereka kagumi.

 

Editor : Bahana.
Sejarah Fashion Ratu Victoria Influencer Marketing Era Victoria Sejarah Periklanan