Langit Indonesia dan Malaysia Gelap oleh Asap Tebal, Api Gambut Membara di Bawah Tanah

Iwa Ikhwanudin • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 10:25 WIB
Kebakaran Lahan Gambut Indonesia September 2026: Asap Satelit NASA Menutupi Wilayah, Dipicu Kekeringan El Niño
Kebakaran Lahan Gambut Indonesia September 2026: Asap Satelit NASA Menutupi Wilayah, Dipicu Kekeringan El Niño

 RADAR MALIOBORO - Langit yang biasanya biru kini seolah tertutup selimut abu-abu. Pada 1 September 2026, satelit Aqua milik NASA mengabadikan pemandangan yang membuat dada sesak: asap tebal menyelimuti sebagian besar Indonesia dan Malaysia. Titik-titik merah di gambar menunjukkan lokasi api yang terdeteksi sensor MODIS, seolah memberi peringatan keras dari luar angkasa.

Kebakaran ini bukan sekadar kobaran biasa. Banyak di antaranya adalah api gambut tropis yang merayap lambat di bawah permukaan tanah. Mereka membara diam-diam, sulit sekali dipadamkan, dan melepaskan polusi jauh lebih tinggi dibanding kebakaran hutan biasa, partikel halus, sulfur dioksida, hingga gas rumah kaca yang berlimpah.

Kekeringan yang melanda hampir seluruh negeri menjadi bahan bakar utama. Sejak Agustus, hujan hampir tidak turun di 90 persen wilayah Indonesia. El Niño yang kuat digabung dengan Dipole Samudra Hindia positif membuat musim kemarau semakin ganas, mengeringkan lahan gambut yang seharusnya basah.

Bagi warga di Kalimantan dan Sumatra, hari-hari terasa panjang. Udara penuh asap membuat anak-anak harus belajar dari rumah. Beberapa taman nasional ditutup. Penerbangan tertunda. Jutaan orang terpapar kabut beracun yang menggerogoti paru-paru.

Sejarah seolah berulang. Tahun 2015 masih teringat jelas, ketika api yang sama melepaskan emisi setara negara besar. Kini, baru sebulan berjalan, emisi sudah mencapai sekitar 10 persen dari angka mengerikan itu. Para peneliti memperingatkan: musim api baru saja dimulai.

Baca Juga: George Clooney Serahkan Golden Lion ke Fotografer, Lalu Ambil Kamera dan Jepret Sendiri di Venice

Di lapangan, petugas berjuang tanpa henti. Namun api yang tersembunyi di lapisan gambut sering kali lolos dari deteksi satelit. Asap terlalu tebal, atau kobaran terlalu dalam di bawah tanah. Yang terlihat di layar hanyalah sebagian dari ancaman sesungguhnya.

Upaya restorasi lahan gambut setelah 2015 sempat memberi harapan. Saluran drainase ditutup, lahan dibasahi kembali. Tapi tahun ini menjadi ujian berat. Kekeringan ekstrem menguji seberapa kuat langkah-langkah pencegahan yang sudah dilakukan.

Dampaknya merambat ke negeri tetangga. Malaysia ikut menanggung kabut yang sama. Sekolah di Sarawak terpaksa libur. Kasus gangguan pernapasan melonjak. Asap tak mengenal batas negara.

Di balik angka dan citra satelit, ada wajah-wajah manusia. Petani yang kehilangan lahan, anak kecil yang batuk-batuk, orang tua yang khawatir. Ada juga satwa yang kehilangan rumah di hutan yang semakin menyusut.

Baca Juga: Astra Honda Bidik Hasil Terbaik di ARRC Sepang 2026 

Para ahli menekankan bahwa El Niño hanya memperparah kondisi. Akar masalahnya lebih dalam: lahan gambut yang dikeringkan untuk perkebunan, praktik membuka lahan dengan api, dan pengelolaan yang belum sempurna. Alam hanya merespons apa yang manusia lakukan.

Hujan diharapkan datang di Oktober atau November. Sampai saat itu, api akan terus membara. Setiap hari tanpa hujan berarti lebih banyak asap, lebih banyak emisi, dan lebih banyak penderitaan.

Kita menatap langit yang gelap dan bertanya: kapan kita benar-benar belajar? Bumi sudah memberi sinyal jelas melalui mata satelit NASA. Sekarang giliran kita menjawab dengan tindakan nyata, sebelum asap ini menjadi kenangan yang terlalu pahit untuk dilupakan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
El Niño 2026 kebakaran lahan gambut Indonesia asap satelit NASA kekeringan Kalimantan Sumatra kabut asap Malaysia