Orangutan Jantan Ditemukan Lemah di Tengah Karhutla Ketapang, Sempurna Akhirnya Mati

Fibrian Putri Heragung • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 10:45 WIB
Orangutan Jantan Ditemukan Lemah di Tengah Karhutla Ketapang, Sempurna Akhirnya Mati
Orangutan Jantan Ditemukan Lemah di Tengah Karhutla Ketapang, Sempurna Akhirnya Mati

 RADAR MALIOBORO – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, tidak hanya berdampak pada lingkungan, permukiman, dan kesehatan masyarakat. Satwa liar yang hidup di sekitar kawasan terdampak juga menghadapi ancaman serius akibat kondisi lingkungan yang memburuk.

Salah satu satwa yang menjadi korban adalah seekor orangutan jantan dewasa bernama Sempurna. Orangutan tersebut ditemukan dalam kondisi sangat lemah di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara.

Sempurna ditemukan warga pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Saat petugas tiba di lokasi, orangutan tersebut berada di sebuah parit kering yang terletak di kawasan perkebunan kelapa sawit milik warga.

Kondisi Sempurna saat ditemukan cukup memprihatinkan. Ia tidak mampu berdiri dan hanya bisa melakukan pergerakan secara terbatas. Selain itu, orangutan tersebut juga mengalami gangguan pada sistem pernapasannya.

Tim dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) kemudian memberikan pertolongan awal. Penanganan dilakukan dengan memberikan terapi oksigen serta cairan melalui infus untuk membantu menjaga kondisi tubuh Sempurna.

Baca Juga: El Niño Bakal Sangat Kuat hingga Februari 2027, Risiko Banjir dan Kekeringan Meningkat di Dunia

Sekitar pukul 11.30 WIB, Sempurna kemudian dievakuasi ke pusat rehabilitasi YIARI agar dapat memperoleh perawatan medis yang lebih intensif.

Namun, kondisi orangutan tersebut tidak kunjung membaik. Sekitar pukul 14.00 WIB, pernapasannya semakin melemah dan dangkal. Bahkan, kadar saturasi oksigen dalam tubuhnya sudah tidak dapat terdeteksi.

Ketika Sempurna menunjukkan tanda-tanda mengalami henti napas, tim medis segera melakukan tindakan resusitasi jantung dan paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Sayangnya, berbagai upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil.

Sempurna akhirnya dinyatakan mati pada pukul 15.20 WIB.

Baca Juga: Langit Indonesia dan Malaysia Gelap oleh Asap Tebal, Api Gambut Membara di Bawah Tanah

Untuk mengetahui kondisi kesehatan sekaligus faktor yang kemungkinan menjadi penyebab kematian, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI melakukan pemeriksaan nekropsi pada 1 September 2026.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya perubahan patologis pada sejumlah organ tubuh Sempurna. Perubahan tersebut terutama terlihat pada paru-paru, jantung, dan ginjal.

Pada bagian paru-paru ditemukan adanya kongesti serta atelektasis parsial, terutama di bagian kaudoventral kedua lobus paru-paru. Berdasarkan riwayat kondisi klinis yang dialami Sempurna dan hasil pemeriksaan, perubahan pada organ pernapasan tersebut diduga berkaitan dengan paparan asap.

Paparan asap dalam kondisi karhutla dapat mengganggu kerja paru-paru dan menyebabkan hipoksia akut, yakni kondisi ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen. Kondisi tersebut kemudian diduga turut memengaruhi fungsi sistem kardiovaskular hingga akhirnya berkontribusi terhadap kematian Sempurna.

BKSDA Kalimantan Barat menyatakan pemeriksaan dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kondisi kesehatan orangutan tersebut serta berbagai faktor yang mungkin berperan dalam kematiannya.

Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan rasa duka atas matinya Sempurna. Ia juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang telah cepat melaporkan keberadaan orangutan tersebut kepada petugas.

Baca Juga: George Clooney Serahkan Golden Lion ke Fotografer, Lalu Ambil Kamera dan Jepret Sendiri di Venice

“Kami sangat menyayangkan Sempurna tidak dapat diselamatkan. Sejak menerima laporan dari masyarakat, tim BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera melakukan evakuasi dan memberikan penanganan medis sesuai dengan kondisi satwa,” ujar Murlan dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

Menurut Murlan, pemeriksaan terhadap Sempurna juga menjadi langkah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan dan faktor yang diduga berkaitan dengan kematiannya.

Ia menekankan bahwa keterlibatan masyarakat memiliki peran besar dalam upaya penyelamatan satwa liar. Terlebih ketika ditemukan satwa dalam kondisi sakit, terluka, maupun terdampak langsung akibat karhutla.

“Peran masyarakat sangat penting. Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar yang membutuhkan pertolongan agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas,” katanya.

Baca Juga: Bukan Cuma Tempat Naik Pesawat, Ini Bandara Terbaik untuk Kulineran

BKSDA Kalimantan Barat turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan penanganan secara mandiri apabila menemukan satwa liar yang sakit, terluka, atau menjadi korban karhutla. Penanganan sebaiknya segera dilaporkan kepada petugas atau lembaga terkait agar satwa dapat memperoleh pertolongan yang tepat.

( FIBRIAN PUTRI HERAGUNG )
Sumber: Berbagi Sumber

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
orangutan mati hutan ketapang kebakaran