MUNGKID – Kepergian seorang perempuan muda penyandang disabilitas ganda berinisial PR, 24, warga Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, sempat membuat keluarganya dilanda kecemasan luar biasa. Sabtu lalu, ia menghilang tanpa kabar. Orang tuanya yang gelisah menunggu di rumah akhirnya melaporkan kepergian sang anak ke Polsek Kaliangkrik sehari setelahnya. Tak ada yang menyangka, di balik kepergian itu tersimpan sebuah mimpi yang ingin ia raih: mencari pekerjaan dan hidup lebih mandiri.
Kabar baik akhirnya datang. PR ditemukan dalam kondisi selamat di sebuah komunitas disabilitas di wilayah Cikoning, Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kabar itu sekaligus mengakhiri pencarian yang melibatkan banyak pihak, mulai dari Polresta Magelang hingga Direktorat Siber Polda Jawa Tengah.
Ps Kasi Humas Polresta Magelang, Ipda Ady Lilik Purbianto, membenarkan penemuan tersebut. Menurutnya, PR ditemukan di salah satu komunitas disabilitas yang berada di wilayah Kabupaten Bandung. Tim Dit Siber Polda Jateng kemudian berkoordinasi dengan Dit Siber Polda Jawa Barat untuk menindaklanjuti titik keberadaan PR.
Petugas tidak langsung bertindak gegabah. Mereka memilih pendekatan persuasif yang penuh kelembutan. PR diajak berbicara dari hati ke hati, didengarkan keinginannya, dan diyakinkan bahwa keluarganya sangat menantikan kepulangannya. Pendekatan manusiawi ini ternyata membuahkan hasil.
"Setelah ditemukan, dilakukan langkah persuasif, ngobrol, dialog untuk mengajak PR untuk bisa diajak pulang ke Magelang. Akhirnya PR berkenan, mau diajak pulang," ujar Ady, menggambarkan momen haru ketika PR akhirnya membuka hati untuk kembali.
Baca Juga: Tiga Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya Tewas Ditembak KKB Saat Antar Bantuan
PR kemudian dibawa oleh Dit Siber Polda Jateng ke Semarang. Di kantor Dit Siber Polda Jateng, orang tua PR datang menjemput dengan didampingi anggota Polsek Kaliangkrik pada Selasa (8/9/2026) siang. Pertemuan itu tentu menjadi momen yang penuh haru. Tangis, pelukan, dan rasa syukur bercampur menjadi satu.
Dari penelusuran, perjalanan PR hingga sampai ke Bandung ternyata bermula dari komunikasi dengan teman lamanya berinisial E. Keduanya merupakan teman sekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Setelah itu, E pindah ke SLB di Salatiga. Meski sudah lama tidak bertemu secara langsung, keduanya masih rajin berkomunikasi melalui WhatsApp.
Dari obrolan ringan itu, muncul rencana untuk bertemu. Keduanya kemudian berniat mencari pekerjaan bersama. Sebuah mimpi sederhana, namun bagi PR, itu adalah langkah besar menuju kemandirian. Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasannya bukanlah penghalang untuk berkarya.
Rencana tersebut membuat PR meninggalkan rumah pada Sabtu. Untuk menuju wilayah Semarang, ia meminta bantuan seorang teman laki-laki berinisial F untuk menjemputnya di Magelang. F datang menggunakan sepeda motor dan mengantar PR ke rumah E di Kabupaten Semarang.
Baca Juga: Bertahan di Kos Sederhana, Menjemput Gelar Jauh dari Rumah dan Mengejar Masa Depan di Yogyakarta
Dari sana, keduanya diantar F menuju Bawen. Perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan kendaraan umum hingga akhirnya tiba di Bandung. Setibanya di sana, ada teman lain yang membantu mengarahkan perjalanan mereka, hingga PR sampai di komunitas disabilitas di Cikoning, Kabupaten Bandung. Sebuah perjalanan panjang yang ditempuh dengan keberanian dan tekad yang kuat.
Kisah PR ini menyentuh banyak hati. Seorang perempuan muda penyandang disabilitas yang berani keluar dari zona nyamannya demi mengejar mimpi. Meski keputusannya sempat membuat keluarganya cemas, di baliknya ada hasrat besar untuk mandiri dan membuktikan kemampuan diri.
Kini PR telah kembali ke pangkuan keluarganya. Orang tuanya pun bisa kembali menarik napas lega. Kisah ini menjadi pengingat bahwa komunikasi yang hangat dan penuh pengertian antara orang tua dan anak sangatlah penting, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Terkadang, yang dibutuhkan bukan hanya pengawasan, tetapi juga ruang untuk bermimpi.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja