67 Hari Berjibaku dengan Api, Relawan Karhutla Sujud Syukur Saat Hujan Turun

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:53 WIB
Relawan karhutla bersujud dan saling berpelukan saat hujan turun setelah berhari-hari berjibaku menangani kebakaran di Kalimantan Barat. (Tangkapan layar Instagram @asrulputrananda)
Relawan karhutla bersujud dan saling berpelukan saat hujan turun setelah berhari-hari berjibaku menangani kebakaran di Kalimantan Barat. (Tangkapan layar Instagram @asrulputrananda) 

RADAR MALIOBORO – Hujan yang turun pada Senin (15/9) menjadi momen yang cukup mengharukan bagi para relawan yang selama ini berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Bukan sekadar berteduh, para relawan justru menyambut hujan dengan cara yang berbeda. Beberapa di antara mereka terlihat saling berpelukan. Ada pula yang langsung bersujud di tengah guyuran hujan sebagai bentuk rasa syukur.

Momen tersebut dibagikan melalui akun Instagram @asrulputrananda. Dalam unggahannya, disebutkan para relawan sudah 67 hari berada dalam perjuangan menghadapi karhutla.

Selama berada di lapangan, mereka harus berhadapan dengan panas dan asap. Kondisi tersebut tentu bukan hal mudah, apalagi ketika api masih muncul di kawasan yang sulit dijangkau.

Karena itu, turunnya hujan seolah menjadi kabar baik yang sudah lama ditunggu. Dalam unggahan tersebut, hujan juga disebut membuat para relawan bisa pulang lebih awal untuk beristirahat.

Baca Juga: Samsung dan Verizon Tuntaskan Pengujian Teknologi yang Disiapkan untuk Era 6G

"67 hari berjuang, hari ini kami pulang membawa syukur," tulis akun tersebut dalam keterangan unggahannya.

Foto dan video momen itu kemudian memperlihatkan ekspresi lega para relawan. Ada yang berdiri sambil membiarkan tubuhnya terkena air hujan, ada yang berpelukan, dan ada yang menundukkan kepala hingga bersujud.

Bagi masyarakat pada umumnya, hujan mungkin menjadi hal biasa. Namun, bagi mereka yang setiap hari berada di lokasi kebakaran, hujan mempunyai arti yang berbeda.

Air hujan diharapkan dapat membantu membasahi lahan yang kering dan mengurangi bara yang masih tersisa. Terlebih, kebakaran di lahan gambut tidak selalu mudah dipadamkan hanya dengan mematikan api yang terlihat di permukaan.

Baca Juga: Bukan Fiksi, Peneliti Kembangkan Kue dari Olahan Limbah Plastik

Sebelumnya, kebakaran di wilayah Ketapang, Kalimantan Barat, juga menjadi perhatian karena proses pemadaman berlangsung cukup lama. Tim gabungan harus menghadapi kondisi lahan gambut yang membuat api dapat bertahan di bawah permukaan.

Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai cara. Tim di lapangan tidak hanya berusaha memadamkan api, tetapi juga mencari sumber air dan melakukan pendinginan pada area yang sudah terbakar.

Kondisi tersebut membuat hujan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi para relawan. Guyuran air dapat membantu proses pendinginan, meskipun penanganan karhutla tetap harus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali menyala.

Momen para relawan bersujud dan berpelukan saat hujan turun akhirnya menjadi gambaran kecil dari perjuangan panjang di tengah karhutla.

Setelah puluhan hari berada di lapangan, mereka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak. Bukan karena pekerjaan sudah sepenuhnya selesai, tetapi karena hujan memberikan sedikit ruang untuk beristirahat.

Baca Juga: Biar Gaji Pertama Tak Numpang Lewat, Ini Panduan Bijak Wujudkan Wishlist Gaya Hidup Gen Z

Hujan itu mungkin hanya berlangsung beberapa saat. Namun bagi para relawan, momen tersebut menjadi pengingat bahwa setelah berhari-hari menghadapi panas dan asap, masih ada alasan untuk bersyukur.

(Maria Margaretha Nirong Gedo) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
Karhutla Pemadaman api Kebakaran hutan hujan kalimantan barat