RADAR MALIOBORO – Cuaca panas sering dianggap hanya bikin gerah dan cepat berkeringat. Padahal, tubuh yang terus kehilangan cairan tanpa diimbangi minum cukup bisa mengalami dehidrasi. Kondisinya bahkan dapat dimulai sebelum rasa haus benar-benar terasa.
Saat suhu udara meningkat, tubuh secara alami mengeluarkan keringat untuk membantu menjaga suhu tetap stabil. Cairan juga dapat berkurang melalui penguapan dari kulit dan pernapasan. Jika cairan yang keluar tidak segera diganti, tubuh mulai mengalami kekurangan cairan.
Yang membuat dehidrasi sering terlambat disadari adalah gejalanya bisa terlihat sederhana. Rasa haus, bibir atau mulut kering, sakit kepala, tubuh terasa lemas, pusing, hingga konsentrasi menurun merupakan beberapa tanda yang perlu diperhatikan.
Perubahan warna urine juga bisa menjadi petunjuk praktis. Urine yang terlihat semakin gelap atau pekat, ditambah frekuensi buang air kecil yang menurun, dapat menunjukkan tubuh sedang membutuhkan lebih banyak cairan.
Baca Juga: Pesona Senja di Embung Tambakboyo, Tempat Anak Muda Bersantai, Berfoto, dan Menikmati Suasana Sore
Bagi yang sehari-hari banyak beraktivitas di luar ruangan, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih. Apalagi ketika tubuh mengeluarkan banyak keringat karena berjalan jauh, bekerja di luar, berolahraga, atau berada di bawah matahari dalam waktu lama.
Dietisien Fitri Hudayani dari RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menyarankan masyarakat tidak menjadikan rasa haus sebagai satu-satunya patokan untuk mulai minum. Menurutnya, dehidrasi ringan dapat terjadi ketika seseorang belum merasa haus.
Kebutuhan cairan harian secara umum berada di kisaran dua hingga 2,5 liter. Saat aktivitas meningkat dan tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat, kebutuhan tersebut dapat bertambah. Cairan juga bisa diperoleh dari makanan yang memiliki kandungan air cukup tinggi, seperti buah, sayuran, dan makanan berkuah.
Namun, bukan berarti semua minuman bisa menggantikan air putih. Kopi dan teh yang mengandung kafein, maupun minuman dengan kadar gula tinggi, sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya sumber cairan. Konsumsi berlebihan, terutama ketika cuaca panas, dapat menimbulkan persoalan lain bagi tubuh.
Baca Juga: 5 Drama Korea 2026 yang Layak Masuk Daftar Tontonan, dari Aksi hingga Komedi Superhero
Karena itu, kebiasaan sederhana bisa mulai diterapkan. Membawa tumbler saat bepergian, minum secara berkala, serta menambah asupan cairan ketika banyak berkeringat menjadi langkah yang mudah dilakukan.
Perlindungan dari panas juga tak kalah penting. Pakaian yang ringan dan longgar, topi atau payung, serta mengurangi aktivitas berat ketika matahari sedang terik dapat membantu tubuh menghadapi suhu tinggi.
Jadi, ketika badan mendadak lemas, kepala terasa pusing, atau fokus mulai berkurang saat cuaca panas, jangan langsung menganggapnya hanya akibat kelelahan. Bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal bahwa cairan yang hilang perlu segera diganti.
(Maria Margaretha Nirong Gedo)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber