Gubernur Jateng Siapkan Lulusan SMK Jadi Sopir di Jepang, Kebutuhan Tenaga Transportasi Jepang

Della Hardi Puspita • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 01:59 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menerima audiensi CEO 3EEE Inc Japan Norio Tanaka membahas kerja sama penyiapan tenaga sopir asal Jateng untuk Jepang, Minggu (21/9/2026). (Dok:Antara)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menerima audiensi CEO 3EEE Inc Japan Norio Tanaka membahas kerja sama penyiapan tenaga sopir asal Jateng untuk Jepang, Minggu (21/9/2026). (Dok:Antara)

 RADAR JOGJA - Peluang kerja ke Jepang bagi warga Jawa Tengah semakin terbuka lebar. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi tengah mendorong penyiapan tenaga kerja terampil asal Jateng untuk mengisi kekosongan di sektor transportasi Jepang yang kini krisis pekerja.

Langkah konkret itu dibahas dalam audiensi bersama CEO 3EEE Inc Japan, Norio Tanaka, dan Head of the President's Office 3EEE Inc Japan, Hideo Mori, di Semarang, Senin (21/9/2026).

Luthfi menyebut kerja sama ini tidak hanya sekadar penempatan, melainkan penyiapan dari hulu. Calon pengemudi akan dicetak sejak masih duduk di bangku SMK dan pendidikan vokasi. 

Mereka tidak hanya diajari cara mengemudi, tetapi juga dibekali kemampuan bahasa Jepang, standar keselamatan transportasi, teknik eco-driving, pemahaman regulasi lalu lintas di Jepang, hingga etika pelayanan penumpang.

"Jateng membuka peluang kerja sama dengan 3EEE Inc Japan untuk pendidikan bahasa dan peningkatan kompetensi agar sesuai standar industri Jepang," ujar Luthfi.

Trennya memang sedang naik. Data Pemprov Jateng mencatat penempatan pekerja migran asal Jateng ke Jepang melonjak signifikan. Jika pada 2024 tercatat 3.760 orang, maka pada 2025 jumlahnya naik menjadi 5.712 orang atau meningkat sekitar 52 persen.

Baca Juga: Galodo Hantam Pusat Pemerintahan Solok, 100 Rumah Terendam dan Akses Padang-Solok Sempat Lumpuh

Dari pihak Jepang, Hideo Mori menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam skema ini. Menurutnya, tanpa keterlibatan pemerintah, mekanisme penempatan, aturan ketenagakerjaan, hingga urusan visa akan sulit berjalan.

"Program seperti ini perlu dijalankan bersama pemerintah. Kalau pemerintah tidak ikut terlibat, akan sulit menentukan aturan atau mekanismenya," kata Mori. Ia menambahkan koordinasi diperlukan agar calon pekerja mendapat kepastian informasi dan perlindungan.

Senada, CEO 3EEE Inc Japan, Norio Tanaka, menjelaskan bahwa Jepang memang tengah menghadapi krisis tenaga kerja akibat perubahan demografi. Populasi Jepang yang saat ini sekitar 120 juta jiwa diproyeksikan turun di bawah 100 juta jiwa setelah tahun 2040, dengan 40 persen di antaranya adalah lansia.

Kondisi ini membuat kebutuhan pekerja asing terus meningkat. Tanaka berharap, setelah mendapat pengalaman di Jepang, para pekerja asal Jateng bisa membawa pulang pengetahuan dan praktik baik untuk membangun Indonesia di masa depan.

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
semarang pekerjaan buruh jepang sopir