JOGJA – Di tengah riuhnya suara roda delman, kayuhan becak, dan lalu lalang wisatawan di Jalan Malioboro, lantunan nada harmonis kerap mencuri perhatian para pelancong.
Suara merdu tersebut bersumber dari bilah-bilah bambu yang digoyangkan dengan penuh penghayatan oleh para anggota Komunitas Angklung Rajawali.
Setiap sore hingga malam pada hari-hari tertentu, komunitas ini setia hadir menghibur pengunjung di kawasan pusat wisata Kota Jogja tersebut. Kehadiran mereka tak sekadar menyajikan hiburan jalanan, tetapi juga membawa misi menjaga dan melestarikan budaya lokal.
Baca Juga: Cegah Anabul Stres Saat Ekuinoks! Ini Tips Simpel Menjaga Kenyamanan
"Selain menghibur, tujuan utama kami adalah memperkenalkan musik tradisional. Istilahnya, kami ikut nguri-nguri (merawat) budaya Jawa," ujar Ika (41), salah satu anggota Komunitas Angklung Rajawali.
Didirikan pada 8 Agustus 2012, komunitas yang kini menginjak usia 14 tahun tersebut memegang komitmen kuat untuk menjaga warisan leluhur. Aksi panggung jalanan yang mereka gelari secara konsisten menjadi langkah nyata agar instrumen musik tradisional tak tergerus arus zaman.
Agar tetap relevan dengan selera publik, para musisi jalanan ini memadukan angklung dengan seperangkat alat musik modern seperti drum, lalu membawakan deretan lagu populer. Kolaborasi ini membuktikan bahwa musik tradisional mampu beradaptasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Baca Juga: Benarkah Perempuan Lebih Bucin? Ini Alasan Psikologis di Balik Sikap Manis dalam Hubungan
Eksistensi Angklung Rajawali di kawasan wisata utama Jogja tentu bukan tanpa hambatan. Para anggota harus berhadapan dengan berbagai tantangan lapangan, mulai dari cuaca yang tidak menentu hingga dinamika regulasi ruang publik bagi penampil jalanan.
Meski demikian, semangat kebersamaan para anggota serta apresiasi dari para pengunjung menjadi pendorong utama keberlangsungan mereka.
Antusiasme wisatawan yang bersedia berhenti sejenak untuk menonton, bertepuk tangan, ikut menari, hingga mengisi kotak apresiasi menjadi energi bagi Komunitas Angklung Rajawali untuk terus berkarya.
Ferry Dwi
Editor : Heru Pratomo