Berbagi Cerita atau Cari Validasi? Media Sosial Kini Jadi Panggung Pengakuan Diri

Maria Margaretha Nirong Gedo • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 11:28 WIB
Ilustrasi seseorang menggunakan media sosial melalui ponsel dan melihat respons terhadap unggahannya. (Ilustrasi AI)
Ilustrasi seseorang menggunakan media sosial melalui ponsel dan melihat respons terhadap unggahannya. (Ilustrasi AI)

 

RADAR MALIOBORO – Pernah tidak, setelah mengunggah foto atau Story, tangan justru sibuk membuka kembali aplikasi untuk melihat siapa saja yang sudah melihatnya? Belum lagi ketika jumlah likes mulai bertambah. Ada rasa senang ketika responsnya ramai, tetapi bisa muncul rasa kecewa ketika unggahan yang dibuat ternyata tidak mendapat perhatian seperti yang diharapkan.

Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi sebagian pengguna, media sosial kini bukan hanya tempat berbagi aktivitas atau mencari hiburan. Ruang digital juga bisa menjadi tempat untuk menunjukkan siapa diri mereka sekaligus mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Cara seseorang menampilkan dirinya di media sosial pun beragam. Ada yang membagikan pencapaian, gaya berpakaian, makanan, perjalanan, pekerjaan, hubungan, sampai kegiatan sehari-hari. Setiap unggahan seolah menjadi potongan kecil dari kehidupan yang ingin diperlihatkan kepada orang lain.

Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Media sosial memang memberikan ruang bagi penggunanya untuk berekspresi. Bahkan, dari media sosial seseorang bisa menemukan komunitas, memperkenalkan karya, membangun jaringan, hingga mendapatkan peluang pekerjaan.

Baca Juga: 7 Tahun Hilang dari Panggung, Syahrini Akhirnya Comeback di Pestapora 2026, Keluarga Jadi Alasannya

Yang perlu diperhatikan adalah ketika respons dari orang lain mulai menjadi ukuran untuk menilai diri sendiri.

Jumlah likes, komentar, views, atau pengikut bisa terasa seperti bentuk penerimaan. Ketika unggahan ramai, muncul perasaan bahwa apa yang dibagikan disukai dan dihargai. Sebaliknya, ketika responsnya sedikit, sebagian pengguna bisa mulai mempertanyakan apakah dirinya kurang menarik atau kurang diperhatikan.

Kebiasaan mengecek notifikasi berulang kali juga membuat perhatian mudah tersedot ke layar. Baru beberapa menit mengunggah sesuatu, aplikasi sudah kembali dibuka untuk memastikan apakah ada yang memberikan respons.

Belum lagi ketika media sosial dipenuhi unggahan tentang pencapaian orang lain. Ada teman yang sedang berlibur, mendapat pekerjaan baru, membeli barang yang diinginkan, atau terlihat memiliki kehidupan yang menyenangkan.

Baca Juga: Liburan Berubah Mencekam, Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo, 13 Turis dan 6 ABK Selamat

Dari situ, membandingkan diri menjadi sesuatu yang mudah terjadi.

Padahal, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu menggambarkan kehidupan seseorang secara utuh. Orang biasanya memilih momen tertentu untuk dibagikan. Kesulitan, kegagalan, rasa lelah, atau persoalan pribadi bisa saja tidak pernah muncul di layar.

Karena itu, kehidupan orang lain di media sosial tidak bisa begitu saja dijadikan patokan untuk melihat kehidupan sendiri.

Media sosial sebenarnya bisa tetap digunakan tanpa harus menjadikannya tempat mencari pengakuan. Salah satunya dengan menyadari alasan ketika ingin mengunggah sesuatu. Apakah memang ingin berbagi cerita, menyimpan kenangan, menunjukkan karya, atau sekadar ingin mendapatkan perhatian?

Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu pengguna lebih sadar terhadap kebiasaan mereka di ruang digital.

Memberi jeda dari media sosial juga tidak ada salahnya. Sesekali menikmati makanan tanpa memotretnya, pergi bersama teman tanpa sibuk membuat Story, atau menyelesaikan aktivitas tanpa mengecek notifikasi bisa menjadi cara sederhana untuk kembali menikmati kehidupan di luar layar.

Baca Juga: Pecah Hiatus, Fourtwnty Obati Rindu di Pestapora Gandeng Erwin Gutawa Orchestra

Pada akhirnya, media sosial hanyalah salah satu bagian dari kehidupan. Ia bisa menjadi tempat berekspresi, mencari hiburan, berkarya, dan berkenalan dengan banyak orang.

Namun, jangan sampai angka di layar menentukan seberapa berharga diri seseorang.

Karena berbagi cerita seharusnya menjadi pilihan, bukan perlombaan untuk mendapatkan pengakuan.

(Maria Margaretha Nirong Gedo)

Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber
mengunggah foto Story tempat berbagi Ruang digital media sosial