RADAR MALIOBORO - Pernahkah Anda memperhatikan bidang miring kecil yang memangkas trotoar tinggi di persimpangan jalan?
Potongan ini dikenal sebagai curb cut.
Keberadaannya sering luput dari perhatian pejalan kaki.
Padahal, keberadaannya sangat diperjuangkan oleh para aktivis disabilitas.
Gagasan adanya curb cut berawal dari gerakan aktivis disabilitas di Berkeley, California, pada akhir 1960-an.
Saat itu, trotoar bersudut tegak lurus menjadi hal yang menyulitkan bagi pengguna kursi roda untuk sekadar menyeberang jalan.
Baca Juga: Yuk Kenalan Sama SEEN, Boy Group Baru Asal Indonesia yang Debut Dengan Konsep Unik dan Warna Musik
Melalui desakan gigih para aktivis, pemerintah kota mulai membuat landaian miring di sudut-sudut jalan dengan semen.
Lambat laun, inovasi ini pun diadaptasi oleh berbagai negara dan menjadi standar baru pembangunan infrastruktur kota.
Hal yang paling menarik dari inovasi ini adalah dampak turunannya.
Meskipun curb cut dirancang khusus untuk mempermudah mobilitas pengguna kursi roda, keberadaannya ternyata membantu hampir seluruh lapisan masyarakat.
Orang tua yang mendorong kereta bayi, pekerja yang menarik koper atau troli barang, hingga lansia yang kesulitan melangkah tinggi, semuanya merasakan kemudahan yang sama saat melewati bidang miring tersebut.
Baca Juga: Kenalan dengan Sophie Silva, Influencer di Balik 31 Hari Kostum Halloween yang Viral
Inovasi yang awalnya ditujukan untuk kelompok spesifik justru menciptakan kenyamanan kolektif.
Fenomena ini kemudian diberi nama curb cut effect, yaitu fenomena di mana fitur ramah disabilitas digunakan dan diapresiasi oleh kelompok yang lebih besar daripada orang-orang yang menjadi target desain fitur tersebut.
Efek ini kemudian dirasakan pada berbagai hal dalam kehidupan kita.
Misalnya saja, kehadiran pintu otomatis dan lift membantu orang yang membawa barang berat.
Dalam dunia digital, teks tertutup dan subtitle, yang dirancang untuk orang yang mengalami gangguan pendengaran, sering digunakan oleh orang-orang di ruangan yang bising atau untuk pembelajaran bahasa.
Baca Juga: Mak Vera Siapkan Album untuk Enam Artis Muda Binaannya
Kemudian, dari sisi teknologi, curb cut effect terlihat dari adanya asisten suara dan alat text-to-speech yang dibuat sebagai teknologi bantu, kini menjadi alat multitasking standar untuk khalayak luas.
Adanya perubahan ini menunjukkan bahwa aksesibilitas tidak boleh dipandang sebagai beban biaya tambahan atau fasilitas khusus semata.
Pengembangan ini merupakan sebuah investasi pada desain universal yang membuat ruang publik menjadi lebih ramah, fungsional, dan adil.
Editor : Meitika Candra Lantiva