RADAR JOGJA - Jika dulu busana adat adalah mahkota kebanggaan yang dipakai untuk menari dan berpesta adat, kini ia berubah menjadi kostum bertahan hidup.
Itulah yang ditampilkan seniman Jambi lewat potret perempuan berbusana tradisional lengkap namun harus memakai masker hingga respirator.
Visual itu sengaja dibuat bertabrakan. Di satu sisi ada keanggunan kain adat yang melambangkan identitas, sejarah, dan harga diri.
Di sisi lain ada latar lahan hitam legam bekas kebakaran hutan dan lahan. Cantik, tapi juga menyakitkan untuk dilihat.
Karya ini seolah berkata bahwa budaya kita pun kini harus belajar bernafas di tengah racun.
Baca Juga: Lukisan Terakhir Kim Sae Ron Sebelum Bunuh Diri Dikaitkan dengan Kim Soo Hyun!
Narasi yang sama bergema di Palembang. Melalui Jaga Api Art Exhibition @menjaga.api, para seniman menggelar pameran fotografi dan lukisan bertema karhutla.
Karya-karya yang dipamerkan tidak ingin dilihat sekadar sebagai hiasan dinding galeri.
Mereka adalah alarm. Lewat goresan dan jepretan, mereka mengajak masyarakat melihat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan hutan yang terbakar dan hilang, melainkan ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan yang hidup di sekitarnya, dalam postingan @ichalago.
Keresahan yang tercecer itu kemudian dikumpulkan dalam satu ruang kolektif yang mereka namai Parade Asap. Namanya puitis, tapi isinya adalah perlawanan. Parade ini bukan arak-arakan, melainkan ruang bersama yang menghadirkan diskusi publik, pameran karya visual, pemutaran video art, mimbar bebas tempat siapa saja boleh bersuara, hingga zine yang dibagikan dari tangan ke tangan.
Parade Asap membawa satu tagline yang menampar: "Siapa yang membakar? Siapa yang terpapar?" Pertanyaan itu menjadi jantung dari semua karya.
Pertanyaan itu menjadi relevan ketika menengok data Jumat (9/10/2026). ISPU di Kota Jambi menyentuh angka 318, sementara di Talang Betutu, Palembang, bahkan mencapai 381. Keduanya sudah masuk kategori berbahaya, udara yang tidak lagi layak dihirup.
Dampaknya bukan abstrak. Ribuan warga Jambi dilaporkan harus berobat akibat ISPA karena menghirup udara berbahaya tersebut. Kegiatan belajar mengajar pun lumpuh, siswa TK hingga SMP kembali dipaksa belajar dari rumah karena kabut asap.
Lewat karya ini, seniman Jambi dan Palembang ingin menegaskan bahwa yang hilang akibat karhutla bukan cuma pepohonan. Yang ikut sesak adalah budaya dan masa depan kita.
Editor : Iwa IkhwanudinSumber : Berbagai Sumber