KULON PROGO – Hujan mulai turun di sejumlah wilayah utara Kabupaten Kulon Progo dalam beberapa hari terakhir. Meski intensitasnya belum tinggi dan belum menandai awal musim penghujan secara menyeluruh, masyarakat diminta tidak lengah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Salah satu ancaman yang perlu diantisipasi adalah tanah longsor, terutama di kawasan perbukitan.
Imbauan tersebut ditujukan terutama kepada masyarakat yang tinggal di kawasan Perbukitan Menoreh. Wilayah dengan kondisi geografis berbukit dan memiliki sejumlah tebing rawan mengalami pergerakan tanah ketika curah hujan meningkat.
Kepala BPBD Kulon Progo Setiawan Tri Widada mengatakan, hujan memang mulai mengguyur beberapa wilayah. Namun, kondisi tersebut belum bisa dijadikan patokan bahwa musim penghujan telah tiba di seluruh wilayah Bumi Binangun.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan diperkirakan berlangsung pada dasarian ketiga November atau menjelang akhir bulan.
Artinya, masyarakat masih memiliki waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan musim. Meski begitu, potensi bencana tetap perlu diperhatikan karena hujan dapat turun sewaktu-waktu dengan intensitas yang berubah.
"Intensitas hujan masih rendah, tapi kami mengimbau agar warga tetap waspada," ujar Setiawan, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, periode peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan merupakan waktu yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebab, hujan deras pertama setelah kemarau panjang berpotensi memicu terjadinya longsor.
Kondisi tanah selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Ketika kekurangan air dalam waktu lama, sebagian permukaan tanah dapat mengalami pengeringan hingga membentuk retakan.
Retakan tersebut bisa menjadi jalur masuknya air hujan ke dalam lapisan tanah. Ketika air meresap dan terkumpul, kondisi tanah berpotensi menjadi lebih labil.
Jika daya ikat tanah melemah, material di lereng maupun tebing dapat bergerak turun. Situasi ini meningkatkan risiko longsor, terutama pada kawasan yang memiliki kemiringan cukup curam.
Kondisi semacam itu kerap dijumpai di wilayah Perbukitan Menoreh. Karena itu, BPBD meminta warga tidak hanya memperhatikan kondisi cuaca, tetapi juga mengamati perubahan permukaan tanah di sekitar tempat tinggal.
Masyarakat yang bermukim di kawasan perbukitan disarankan memeriksa lingkungan rumah secara berkala. Perhatikan apabila muncul rekahan tanah, khususnya yang memanjang dan berada di sekitar lereng atau tebing.
Retakan tanah sebaiknya tidak dianggap sebagai persoalan sepele. Terlebih jika ukurannya semakin lebar atau panjang setelah hujan turun.
Setiawan menyarankan warga membuat saluran air atau selokan untuk mengalihkan aliran hujan agar tidak masuk ke dalam rekahan tanah. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi peresapan air ke bagian tanah yang berpotensi mengalami pergerakan.
Selain itu, masyarakat yang rumahnya berbatasan langsung dengan tebing perlu meningkatkan kewaspadaan. Apabila muncul tanda-tanda pergerakan tanah, keselamatan penghuni harus menjadi prioritas.
Warga juga diminta segera menghindari area yang menunjukkan indikasi longsor. Jika kondisi dinilai membahayakan, evakuasi mandiri perlu dilakukan tanpa menunggu material tanah bergerak.
Sementara itu, Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulon Progo Budi Prastawa mengingatkan bahwa hujan yang turun beberapa hari terakhir belum menjadi penanda pasti dimulainya musim penghujan.
Menurutnya, masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi perubahan cuaca yang bisa terjadi secara mendadak. Kesiapsiagaan tidak hanya berkaitan dengan ancaman bencana, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat selama masa peralihan musim.
Di sisi lain, hujan yang mulai turun dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Terutama bagi masyarakat yang selama kemarau mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.
Budi menyarankan warga menampung air hujan apabila kondisi lingkungan memungkinkan. Air tersebut setidaknya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari sembari menunggu bantuan distribusi air bersih.
"Manfaatkan air hujan, setidaknya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menunggu droping air bersih," ungkapnya.
BPBD Kulon Progo berharap masyarakat tidak menunggu sampai terjadi bencana untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengenali tanda-tanda awal longsor, memperhatikan kondisi lingkungan, serta menyiapkan langkah penyelamatan menjadi bagian penting dalam menghadapi musim hujan. (gas)
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Radar Jogja