RADAR MALIOBORO - Belakangan ini, tren "bed rotting" atau menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur tanpa melakukan apa-apa menjadi viral, terutama di kalangan anak muda.
Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap budaya produktivitas yang berlebihan, di mana generasi muda mulai menolak tekanan untuk selalu aktif dan produktif.
Dengan berbaring di tempat tidur, mereka menemukan cara untuk bersantai tanpa merasa bersalah.
Dilansir dari The Guardian, banyak orang melihat "bed rotting" bukan sekadar tindakan malas.
Bagi mereka, ini adalah cara untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental akibat tekanan kehidupan sehari-hari.
Menghabiskan waktu di tempat tidur dianggap sebagai momen pemulihan dari burnout, serta sebagai sarana untuk menjaga kesehatan mental.
Dalam dunia yang terus menuntut, waktu di tempat tidur menjadi oasis bagi mereka yang merasa lelah.
Namun, tren ini tidak lepas dari kritik. Beberapa pakar menyuarakan keprihatinan bahwa "bed rotting" bisa berdampak negatif jika dilakukan secara berlebihan.
Misalnya, bisa menurunkan kebugaran fisik dan memperburuk gangguan tidur.
Dengan terjebak dalam rutinitas berbaring, ada risiko munculnya masalah kesehatan yang lebih serius.
Meski demikian, "bed rotting" mencerminkan kebutuhan akan keseimbangan antara kerja keras dan istirahat.
Dalam dunia yang semakin kompetitif, tren ini menjadi bentuk perlawanan terhadap ekspektasi produktivitas yang tidak realistis.
Ini menawarkan cara bagi mereka yang merasa lelah untuk beristirahat dengan nyaman dan tanpa rasa bersalah, mengingat bahwa istirahat yang cukup juga penting untuk kesehatan secara keseluruhan.
Dengan demikian, meskipun "bed rotting" mungkin terdengar sepele, fenomena ini memiliki makna yang lebih dalam.
Ini adalah pengingat bagi kita semua bahwa terkadang, memberikan diri kita waktu untuk beristirahat adalah langkah penting untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. (Martinus Jonathan Nainggolan)
Editor : Meitika Candra Lantiva