RADAR MALIOBORO - Jika anda adalah seorang pekerja dan tidak memiliki waktu yang cukup dalam menyisihkan waktunya untuk istirahat, anda perlu berhati – hati.
Sebab, dalam kondisi tersebut, manusia cenderung mudah mengalami stress dan kelelahan, baik secara fisik maupun mental.
Belakangan, kondisi tersebut marak digunakan dengan istilah “Burn out.”
Dilansir dari laman kemenkeu.go.id, Burn out mengacu pada kondisi stress kronis di mana pekerja merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara – gara beban pekerjaannya sendiri.
Burn out ditandai dengan tiga hal, yakni kelelahan fisik, kelelahan secara emosional, serta kelelahan mental atau sikap.
Ketiganya menimbulkan gejolak negatif di mana seseorang yang mengalami kondisi ini akan selalu merasa tidak berdaya, lelah sepanjang waktu, depresi, serta mulai merasakan sikap sinis terhadap orang lain maupun pekerjaan yang dapat merugikan diri sendiri.
Sedangkan menurut laman prudential.co.id, istilah Burn out dibedakan dengan stress, di mana kondisi stress merupakan gejala umum yang lebih sering dialami banyak orang.
Sedangkan Burn out merupakan stress akibat beban kerja yang sudah menumpuk banyak dalam beberapa periode waktu bekerja.
Selain karena kondisi eksternal seperti beban kerja, masa kerja serta tingkat stress, Burn out juga memiliki faktor internal yang mencakup jenis kelamin, usia (20 – 30 tahun), tingkat pendidikan rendah, status pernikahan serta kepribadian individu.
Meskipun keduanya berbeda, namun terdapat faktor penyebab yang muncul dari sumber masalah yang sama.
Stress yang menumpuk dan diakibatkan oleh kelelahan bekerja memang merupakan gejala yang umum bagi para pekerja.
Namun, jika tidak diantisipasi stress ini dapat mengganggu produktifitas kita atau bahkan merugikan diri sendiri dan orang lain.
Jika anda merasa sudah tidak berdaya melakukan pekerjaan, baik karena lelah secara fisik maupun mental, anda bisa melakukan beberapa tips mengantisipasi kondisi tersebut supaya tidak berujung menjadi sindrom Burn out.
Yang pertama, atur ulang waktu kerja dan waktu istirahat. Konsultasikan terhadap atasan atau rekan kerja supaya mendapat keringanan terhadap pembagian beban kerja.
Ceritakanlah bagian yang dirasa sulit untuk dicapai seorang diri.
Yang kedua, carilah hal – hal positif yang dapat memotivasi diri kita kembali. Dengan begitu, kita dapat sedikit mengurangi stress yang menumpuk akibat terlalu sering menghadapi pekerjaan.
Terakhir, komunikasikanlah dengan orang terdekat, baik keluarga atau rekan di luar pekerjaan yang sekiranya mampu mendengarkan keluh kesah yang kita miliki. (Muhammad Malik Nadzif)
Editor : Meitika Candra Lantiva