RADAR MALIOBORO - Halloween berasal dari festival Samhain, tradisi masyarakat Celtic kuno di wilayah Inggris, Skotlandia, dan Irlandia.
Festival ini dirayakan sebagai penanda akhir musim panen dan awal musim dingin, saat orang-orang percaya bahwa roh leluhur kembali ke dunia.
Seiring berjalannya waktu dan pengaruh ajaran Kristen di Eropa, tradisi ini berkembang menjadi Halloween dengan berbagai elemen khasnya, seperti kostum hantu, dekorasi seram, dan permainan “trick or treat.”
Saat ini, Halloween lebih dikenal sebagai bagian dari budaya pop, terutama di negara-negara Barat, dengan unsur hiburan seperti kostum dan berbagi permen.
Di balik keseruan tersebut, Halloween tetap menyimpan makna tentang siklus hidup dan kematian, tema yang beragam dan dapat dimengerti oleh banyak budaya.
Tak bisa dipungkiri, tren Halloween di Indonesia didorong oleh pengaruh media sosial dan industri hiburan.
Pesta Halloween dengan dekorasi unik dan riasan dramatis sangat cocok diabadikan di media sosial, menjadi konten menarik bagi Gen Z.
Banyak tempat hiburan dan kafe juga memanfaatkan Halloween sebagai ajang promosi, dengan dekorasi serta acara khusus untuk menarik pengunjung.
Halloween bisa saja diadaptasi sebagai perayaan hiburan yang ramah bagi kalangan anak muda, namun tetap perlu diimbangi dengan pengertian mengenai asal-usulnya.
Pesta kostum dan acara seram memang menarik, tetapi penghormatan terhadap budaya lokal Indonesia juga penting.
Baca Juga: Bahaya Menjemur Pakaian Dalam di Dalam Ruangan, Waspadai Dampaknya bagi Kesehatan
Meski mungkin Halloween tidak memiliki makna budaya yang dalam di Indonesia, perayaan ini masih dapat diadopsi sebagai hiburan yang tetap menghormati nilai-nilai setempat.
Namun, kadang membuat Halloween kehilangan makna aslinya, dan lebih dilihat sebagai sebuah “gaya hidup” daripada tradisi yang memiliki nilai sejarah.
Melihat Halloween di Indonesia? Apakah pesta hantu ini “relate” untuk teman - teman? (M. Akmaluddin Fahmi)
Editor : Meitika Candra Lantiva