RADAR MALIOBORO – Tren thrifting atau membeli pakaian bekas semakin marak di kota-kota besar, termasuk Yogyakarta.
Selain harga terjangkau dan kualitas yang terkadang masih baik, pakaian thrift juga diminati karena mendukung gaya hidup berkelanjutan.
Berdasarkan survei, sekitar 49,4 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah melakukan thrifting.
Baca Juga: Nikmati Kehangatan Bubur Hayam, Cocok Dijadikan Spot Kuliner di Musim Hujan
Namun, di balik keuntungannya, pakaian thrift menyimpan risiko kesehatan yang perlu diperhatikan.
Impor Meningkat, Risiko Kesehatan Mengintai
Impor pakaian bekas ke Indonesia terus meningkat.
Pada tahun 2022, jumlahnya mencapai 26,22 ton, naik 227,75 persen dari tahun sebelumnya.
Tren ini tidak hanya diminati kalangan muda tetapi juga masyarakat umum, termasuk yang berpenghasilan tinggi.
Pakaian thrift sering kali mengandung mikroorganisme berbahaya seperti:
Beberapa penyakit kulit yang sering dikaitkan dengan pakaian thrift meliputi:
•Dermatitis Kontak: Reaksi alergi akibat bahan kimia pada pakaian.
Pakaian thrift dapat menjadi media penyebaran virus seperti Human Papillomavirus (HPV), yang menyebabkan kutil, atau penyakit menular lainnya seperti cacar monyet.
Baca Juga: Commitment Issue, Seberapa Bahayakah dalam Hubungan? Begini Penjelasannya
4. Residu Bahan Kimia Berbahaya
Proses produksi dan penyimpanan pakaian bekas sering melibatkan bahan kimia seperti:
•Formaldehida: Dapat memicu iritasi kulit dan gangguan pernapasan.
•Pestisida: Digunakan untuk melindungi pakaian selama penyimpanan, yang residunya berbahaya.
•Pewarna Beracun: Beberapa pewarna tekstil mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan reaksi alergi atau efek jangka panjang.
Baca Juga: Pengertian Cerebral Palsy atau Lumpuh Otak: Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya
5. Hama dan Parasit
Kutu busuk, tungau, atau parasit lain sering ditemukan pada pakaian thrift.
Hama ini dapat menyebabkan gatal-gatal, alergi, hingga menyebar ke lingkungan rumah.
6. Kurangnya Standar Kebersihan
Tidak semua penjual thrift membersihkan barang dagangan mereka dengan baik.
Ini membuat pakaian thrift rentan terkontaminasi oleh bakteri, jamur, atau bahan kimia.
Baca Juga: Pengertian Cerebral Palsy atau Lumpuh Otak: Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya
7. Dampak Psikologis
Selain kesehatan fisik, penggunaan pakaian thrift juga dapat memicu kecemasan, terutama jika konsumen merasa pakaian tersebut berpotensi membawa kuman atau bahan berbahaya.
Langkah-Langkah Aman Thrifting
Agar tetap aman saat berbelanja pakaian thrift, lakukan langkah berikut:
1.Periksa Kondisi Fisik: Hindari pakaian dengan noda, bau aneh, atau tanda kerusakan parah.
Baca Juga: Drama Politik antara Presiden dan Wakil Presiden Filipina hingga Berujung Ancaman Pembunuhan
2.Cuci Sebelum Pakai: Gunakan deterjen antibakteri dan air panas jika memungkinkan untuk membunuh mikroorganisme.
3.Cari Sumber Terpercaya: Pilih penjual yang memiliki reputasi baik dan memastikan kebersihan barang dagangannya.
4.Hindari Barang Berpotensi Berbahaya: Jangan membeli pakaian yang terlihat sangat kotor atau berasal dari sumber yang tidak jelas.
Baca Juga: Gereja Bebek Karet di Madrid: Misa Penuh Humor, Cinta, dan Kejutan yang Bikin Pengunjung Terkagum-Kagum
Meski thrift menawarkan harga murah dan nilai keberlanjutan, kesehatan tetap menjadi prioritas.
Dengan langkah yang tepat, Anda tetap bisa menikmati thrifting tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan Anda. (Latri Rastha Dhanastri)
Editor : Winda Atika Ira Puspita