RADAR MALIOBORO - Larangan penjualan pakaian bekas impor yang ditegaskan pemerintah beberapa waktu terakhir membuat sebagian anak muda mulai kebingungan dan mencari alternatif gaya berbusana yang tetap trendi, terjangkau namun tidak melanggar aturan.
Selama ini, budaya thrifting identik dengan harga terjangkau, brand terkenal dan kualitas yang masih bagus, sehingga banyak digemari kalangan gen Z baik pelajar ataupun mahasiswa.
Namun di balik itu, pemerintah menilai bahwa masuknya pakaian bekas dari luar negeri dapat mengganggu industri pakaian lokal, sekaligus juga membawa potensi risiko kesehatan dari proses pengolahan yang tidak sesuai standar.
Oleh karena itu, pembatasan distribusi dan penertiban pasar pakaian impor bekas kini gencar dilakukan oleh pemerintah.
Akan tetapi larangan tersebut bukan berarti kreativitas anak muda dalam berpenampilan harus terhenti.
Ada beberapa pilihan lain yang tetap bisa menjadi solusi untuk tampil gaya, hemat, sekaligus mendukung keberlanjutan lingkungan.
Beberapa pilihan menarik yang bisa dipilih kalangan Gen Z sebagai alternatif lain yaitu :
1. Memilih untuk menggunakan brand lokal
Saat ini banyak merek lokal muncul dengan desain dan kualitas yang tidak kalah dari produk luar negeri. Anak muda yang menggunakannya akan tetap dapat tampil trendi melalui produk negara sendiri.
Membeli produk lokal bukan hanya mendukung industri kreatif dalam negeri, tetapi juga membuka peluang kerja bagi para pelaku UMKM di sektor fashion.
2. Swap clothes
Swap clothes yaitu kegiatan bertukar pakaian dengan teman atau komunitas. Tren ini sudah dimulai beberapa tahun terakhir ini, pada tahun lalu bahkan terdapat acara Clothes Swap Party (CSP) atau Pesta Tukar Pakaian oleh TRI Cycle yang menjadi bagian dari Sustainable Fashion Fest 2024 (SFF2024), pesta ini sudah diadakan sebanyak 12 kali di berbagai daerah seperti di Jakarta dan Bali.
Selain unik cara ini dinilai lebih ramah lingkungan karena memperpanjang usia pakai pakaian tanpa menambah limbah. Selain itu, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan sosial dan saling memperkenalkan gaya busana masing-masing. Tertarik untuk mencobanya bersama sirkel kalian?
3. Tren upcycling
Tren upcycling atau mendaur ulang pakaian lama juga dapat menjadi model baru yang bisa diminati.
Banyak kreator lokal yang menawarkan jasa mengubah kaus, celana, atau jaket lama menjadi desain yang lebih unik dan modern, bahkan kegiatan ini bisa dilakukan sendiri di rumah dengan bahan sederhana.
Tren ini melibatkan penggunaan bahan bekas, seperti pakaian lama, kain perca, atau bahkan kontainer logistik, untuk menciptakan karya baru yang memiliki nilai artistik. Contoh tren yang sedang populer meliputi desain tambal sulam, dekonstruksi denim, dan transformasi kaos menjadi barang fungsional.
Dengan munculnya berbagai alternatif tersebut, larangan thrifting pakaian impor tidak serta merta akan menghilangkan ruang ekspresi anak muda khususnya Gen Z dalam berpakaian.
Justru, situasi ini dapat membuka peluang baru untuk menghadirkan gaya busana yang unik, kreatif, lokal dan lebih ramah terhadap lingkungan.
Di tengah kebijakan pemerintah ini, mari kita tunjukkan bahwa kita adalah generasi yang bisa tampil trendi dari produk negara sendiri dengan pikiran kreatif ala gen Z.
Muhtar Dinata