Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Pelajaran Self Defense dari David Krav, Harus Bisa Membaur dengan Masyarakat, tapi di India Sulit 

Heru Pratomo • Minggu, 23 November 2025 | 13:47 WIB
Pelajaran Self Defense dari David Krav
Pelajaran Self Defense dari David Krav

 

Bagi seorang David Krav, yang merupakan instruktur self defense, yang paling utama dalam pertahanan diri adalah pengetahuan tahu di mana dia berada.

Sebagai instruktur pasukan elite di Indonesia dia selalu menekankan untuk bisa berbaur dengan masyarakat. Termasuk menjajal makanannya. Tapi tidak saat di India.

Saat itu dia hendak bertugas untuk masuk ke Islamabad, Pakistan melalui India. Dari ilmu dasar pertahanan diri yang diyakininya adalah tahu konteks lapangan.

Karena itu, dalam setiap pelatihannya dia selalu menekankan untuk bisa mengenal warga setempat di manapun tugasnya. 

"Termasuk dengan mencoba makanannya, tapi di India untuk menelan makanannya aja sulit," ungkapnya dalam pelatihan Survival dan Proteksi: Kunci Keselamatan Jurnalis di Ndalem Sambisari 234 Kalasan, Sleman yang juga menjadi markas Pemuda Pancasila DIY, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan ini diinisiasi Pers Siber Indonesia (PSI) Yogyakarta dan MPW Pemuda Pancasila (PP) DIY.

 

David, yang pernah menjadi petugas pengamanan di berbagai negara konflik itu tanpa menyebutkan alasannya, hanya mengatakan, "Ya kalian tahu sendirilah." Dia hanya menyebut konten di media sosial terkait prose pembuatan makanan di India yang jauh dari higienis.

Hal itu juga karena budaya masyarakatnya yang tidak memperhatikan kebersihan. "Bahkan di kota besar seperti New Delhi, toilet tidak ditutup habis buang air langsung pergi saja," tuturnya.

 

Dari pengalamannya tersebut David menyebut, pertahanan diri terbaik adalah pengetahuan bukan kemampuan fisik. David dan timnya yang dipercaya menjaga keamanan sewaktu Paus Fransiskus ke Indonesia 2024 silam itu menambahkan, dalam melakukan adaptasi dia biasa menyarankan untuk dilakukan minimal tiga orang.

Satu orang bertanya, satu memotret situasi dan satu lainnya mengamati. Sehingga laporan yang diterima bisa komperhensif, lebih luas.

 

"Sama seperti tugas wartawan kan, biar bisa melihat dari banyak sisi," ungkap pria yang menjadi instruktur bagi pasukan elite TNI dan Polri itu.

David pun berbagi tips sederhana untuk pertahanan diri. Yang biasa dia lakukan adalah saat datang di tempat baru, jangan buru-buru masuk. Tahan dulu tiga detik, untuk mengamati kondisi sekitar, orang-orangnya, kondisi bangunannya, dan akses keluarnya.

 

Selain itu juga harus selalu waspada. Dia menyebut, saat pelatihan self defense biasa ditanya bagaimana caranya melepaskan diri jika ada pelaku yang merangkul dari belakang. "Pertanyaan saya kenapa sampai dirangkul dari belakang?" ungkapnya.

 

Sementara itu mantan pewarta foto Reuters, Beawiharta yang juga punya pengalaman meliput di berbagai daerah konflik pun menyebut, mitigasi adalah cara terbaik saat meliput di daerah konflik.

Dia membagikan pengalaman saat memotret kerusuhan di Jakarta pada 1998 silam. Saat hendak meliput, dia sudah mempersiapkan diri dengan memarkirkan kendaraan di wilayah yang dianggap aman hingga jalur evakuasi. 

 

Sama dengan prinsip self defence, Beawiharta terbiasa memetakan segala sesuatunya dengan rapi.

Mencari jalan aman untuk masuk, dan membuat rute pulang dengan selamat. "Tidak ada berita seharga nyawa," ujarnya.

Baca Juga: Kondisi Jembatan Besuk Koboan Usai Erupsi Semeru

Sedang Ketua MPW Pemuda Pancasila (PP) DIY Faried Jayen Soepardjan berharap pelatihan ini memberikan pengetahuan baru bagi wartawan saat meliput di lapangan.

"Meski Jogja ini bukan daerah konflik, tapi daerah rawan konflik. Jadi masalah nasional sering muncul dari Jogja," kata Faried.

Editor : Heru Pratomo
#sambisari #David Krav #india #pemuda pancasila #pasukan elit #Beawiharta #Self defense #paus fransiskus