Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Terlihat Bahagia, Tapi Tertekan: Dampak Toxic Positivity bagi Kesehatan Mental

Bahana. • Jumat, 28 November 2025 | 21:12 WIB

Photo
Photo
Toxic positivity adalah sikap atau perilaku yang memaksa seseorang untuk selalu berpikir positif dan mengabaikan emosi negatif, seperti sedih, marah, atau kecewa, bahkan dalam situasi yang memang membutuhkan ruang untuk merasakan dan mengekspresikan emosi tersebut.

Meskipun niat awalnya baik, toxic positivity justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental karena menyebabkan seseorang menekan perasaan sebenarnya, merasa bersalah saat merasa sedih, dan kehilangan empati terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Berikut 4 dampak toxic positivity bagi kesehatan mental:

1. Munculnya Rasa Malu dan Bersalah

Toxic positivity sering kali menyampaikan pesan tersembunyi bahwa perasaan negatif dianggap tidak benar.

Saat seseorang secara terus menerus mendengar “kamu harus bersikap positif”, akan muncul rasa bersalah karena tidak mampu memenuhi harapan tersebut. “Tosic positivity menciptakan perasaan bahwa emosi seseorang tidak pantas” ujar Mary Jo Kreitzer, profesor keperawatan dari University of Minnesota.

Situasi ini dapat mengakibatkan rasa malu yang mendalam. Penelitian juga mengungkapkan bahwa rasa malu terkait dengan berbagai isu mental, termasuk gangguan makan dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

2. Membuat Kamu Menyembunyikan Diri yang Sebenarnya

Ketika seseorang berupaya untuk terlihat bahagia, mereka mengorbankan kesempatan untuk menjadi diri sendiri. Perasaan negatif yang seharusnya diakui malah dipandang sebagai suatu kekurangan.

Kreitzer menekankan bahwa paksaan untuk bersikap bahagia yang tidak alami meremehkan pengalaman manusia yang normal.

Akibatnya, seseorang menjadi kurang berani untuk mengekspresikan diri yang sesungguhnya, termasuk kebutuhan dari sisi rentan mereka.

3. Membuat Kamu Pasif dan Mengabaikan Masalah

Toxic positivity tidak hanya menghilangkan perasaan, tetapi juga dapat menghambat individu dalam mengambil tindakan dalam kehidupannya.

Berdasarkan penjelasan Claudia Trudel-Fitzgerlad, asisten profesor psikologi di Kanada, toxic positivity dapat mempengaruhi cara seseorang menghadapi tantangan.

Pandangan ini dapat menyebabkan seseorang menyalahkan diri ketika target tidak tercapai, menghasilkan siklus frustasi dan penolakan.

4. Menimbulkan Rasa Terisolasi dari Orang Lain

Saat seseorang diberi instruksi untuk “tidak perlu cemas” dalam keadaan yang menegangkan, mereka dapat merasakan kesendirian saat menghadapi perasaan mereka.

Hal ini dapat menyebabkan seseorang merasa terisolasi karena tidak dapat mengakui apa yang mereka alami.

Apabila situasi yang sulit dipandang sepele oleh sekitar, orang tersebut cenderung menyimpan emosinya sendiri, sehingga mengakibatkan hubungan sosial yang semakin lemah.

Penulis: Ocha

Editor : Bahana.
#toxic positivity