Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Fenomena Ghosting: Kenapa Jadi “Trend” di Kalangan Anak Muda? Begini penjelasannya

Bahana. • Jumat, 12 Desember 2025 | 21:20 WIB

Photo
Photo
Ghosting sebenarnya bukan hal baru, tetapi kini makin sering terjadi terutama di kalangan Gen Z. Hubungan yang awalnya intens, chat yang setiap hari ramai, hingga rencana ketemu tiba-tiba hilang tanpa penjelasan.

Yang menarik, ghosting bukan hanya tindakan impulsif, tapi berkembang menjadi pola yang dipahami banyak anak muda dalam kultur digital saat ini.

Salah satu alasan ghosting makin marak adalah karena komunikasi digital membuat hubungan terasa cepat terbangun.

Lewat chat, DM, atau dating app, dua orang bisa terlihat dekat padahal kedekatannya rapuh.

Ketika muncul ketidakcocokan kecil atau rasa bosan, menghilang terasa lebih mudah daripada menjelaskan.

Tinggal berhenti balas chat, hilang dari timeline, selesai.

Tekanan emosional juga ikut berperan. Banyak anak muda belum sepenuhnya nyaman dalam mengelola konflik. Mengungkapkan “aku kurang cocok”, “aku nggak siap”, atau “aku mau selesai” terasa lebih menegangkan daripada sekadar menghilang.

Ghosting dianggap cara aman untuk menghindari rasa bersalah, meski justru menyisakan luka di pihak lain.

Di sisi lain, budaya pilihan tak terbatas membuat banyak orang merasa selalu ada opsi lain. Aplikasi kencan, pertemanan online, dan media sosial menawarkan orang baru setiap hari.

Ketika seseorang mulai terasa “ribet”, kurang menarik, atau tidak seperti ekspektasi awal, berpindah ke orang lain jadi langkah cepat. Pola ini mendorong ghosting sebagai mekanisme pergantian tanpa drama.

Ada juga faktor ketakutan akan komitmen. Banyak anak muda yang sedang fokus kuliah, karier, atau healing dari masa lalu.

Begitu hubungan mulai mengarah ke tahap yang lebih serius, sebagian memilih mundur tiba-tiba. Bukan karena tidak suka, tapi karena tidak siap menjalani hubungan dengan tanggung jawab emosional.

Fenomena ghosting juga dipengaruhi pola komunikasi yang serba instan. Di dunia digital, hubungan tidak selalu dimulai dengan fondasi yang jelas.

Tidak adanya definisi hubungan membuat seseorang merasa tidak wajib memberikan penjelasan ketika ingin pergi. “Kan kita nggak jadian”, atau “kita cuma deket doang” sering dijadikan pembenaran untuk menghilang.

Meskipun ghosting sudah menjadi fenomena umum, dampaknya tetap terasa.

Yang ditinggalkan merasa bingung, tidak dihargai, bahkan mempertanyakan diri sendiri.

Yang meng-ghosting pun kadang merasa bersalah diam-diam.

Namun selama komunikasi masih bertumpu pada layar dan hubungan cepat berubah, ghosting kemungkinan tetap akan ada sebagai salah satu “gaya putus” paling sederhana di era digital.


Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#ghosting