Ekonomi Teknologi Lifestyle Lesehan Pendidikan Sport Pemerintahan Politik Parliament Hukum Sejarah Internasional

Fenomena “Late Sleep Syndrome” di Kalangan Gen Z

Bahana. • Jumat, 12 Desember 2025 | 21:22 WIB

Photo
Photo
Di banyak kota, pola tidur Gen Z makin bergeser ke arah malam. Banyak yang baru terlelap di atas jam 1 atau bahkan jam 3 pagi, meski esoknya tetap harus kuliah, kerja, atau beraktivitas.

Kebiasaan ini kemudian populer dengan sebutan late sleep syndrome, istilah non-medis yang menggambarkan kecenderungan generasi muda tidur jauh lebih larut dari waktu ideal.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Ritme hidup Gen Z banyak dipengaruhi dunia digital.

Aktivitas belajar, hiburan, bahkan kerja part-time banyak berlangsung lewat perangkat yang membuat mereka terus terjaga.

Scroll TikTok sebelum tidur menjadi ritual yang sulit dihentikan karena algoritma terus menawarkan konten segar. Alhasil, otak tetap aktif dan tubuh sulit masuk ke fase istirahat.

Selain faktor gadget, ada juga dorongan psikologis berupa revenge bedtime procrastination. Ini muncul ketika seseorang merasa tidak punya “me time” sepanjang hari, sehingga memilih menunda tidur untuk menikmati waktu santai di malam hari.

Banyak Gen Z yang merasa waktu tersebut adalah satu-satunya momen bebas dari tugas, notifikasi grup kelas, atau tekanan sosial.

Aktivitas produktif juga tidak jarang dilakukan larut malam. Beberapa mahasiswa justru merasa lebih fokus mengerjakan tugas pada jam 11 malam ke atas.

Suasana yang sunyi dianggap lebih memudahkan berpikir, sehingga jadwal belajar bergeser semakin mundur. Lama-kelamaan, kebiasaan ini menjadi ritme harian yang sulit dikembalikan ke pola tidur normal.

Dampaknya pun mulai terasa. Bangun siang, sulit konsentrasi, tubuh cepat lelah, hingga emosi yang lebih sensitif.

Banyak yang sadar bahwa pola tidur mereka tidak sehat, tetapi kesulitan memutus kebiasaan tersebut. Lingkungan pergaulan yang memiliki jadwal serupa juga membuat perubahan semakin menantang.

Fenomena late sleep syndrome menunjukkan bahwa tidur bukan sekadar urusan kapan memejamkan mata.

Ini erat dengan tekanan hidup, pola kerja-kuliah yang padat, serta budaya digital yang membuat malam terasa lebih “hidup” daripada siang. Gen Z sebenarnya tidak ingin kurang tidur; mereka hanya terjebak dalam ritme yang tercipta dari gaya hidup modern.

Meskipun sulit diubah, pola ini bisa diperbaiki perlahan mematikan gadget lebih awal, membuat jadwal tidur konsisten, atau menciptakan rutinitas tenang sebelum tidur.

Tujuannya bukan sekadar bangun pagi, tetapi menjaga kesehatan tubuh dan mental yang sangat dibutuhkan di tengah padatnya tuntutan hidup anak muda saat ini.

Writer Naela Alfi Syahra

Editor : Bahana.
#Gen Z